2 Jam Mendaki demi Wae Rebo

Hi kawan, apa kabarnya? Semoga dalam keadaan baik.

Minggu lalu, saya dan suami pergi mengunjungi Flores, NTT. Salah satu highlight dari perjalanan itu adalah, mendaki gunung selama dua jam, untuk melihat desa Wae Rebo.

DESA Wae Rebo di Flores, NTT yang terletak pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut ini layaknya sebuah surga yang berada di atas awan.

Wae Rebo, I Love you

Wae Rebo is an old Manggaraian village, situated in pleasant, isolated mountain scenery. The village offers visitors a unique opportunity to see authentic Manggarai housing and to experience the everyday life of the local community. In the village of Wae Rebo, visitors can see mbaru niang – traditional, circular cone-shaped houses with very unique architecture. Nowadays, it is still a place to hold meetings, rituals and Sunday-morning prayers together. source: http://florestourism.com/districts/wae-rebo-village/

Sungguh penuh perjuangan untuk bisa mencapainya, terutama bagi mereka yang jarang olahraga. Saya tiba di sana setelah mendaki kurang lebih 9km selama dua jam, (agak congkak memang, sedangkan suami tertinggal 30 menit di belakang saya, hueheheheh).

Iya mendaki, karena memang selalu menanjak jalannya 😦 Udah gituuuu, ditambah dengan hujan, awalnya rintik – rintik imut, lalu lama kelamaan menjadi cukup deras. Sedihnya adalahhhhh, jas hujan saya titip di tas suami, mungkin ini balasan dari Tuhan kepada saya yang meninggalkan suami di belakang, wkwkwkwwk….

Saya dan rombongan yang di depan, selalu penasaran. Ini kapan sampenya siiih, perasaan kita kalo berenti cuma sekadar minum seteguk – dua teguk lalu lanjut jalan lagi. ahhahaahah… Pernah satu kali, kami ketemu orang yang turun gunung, si kakak itu bilang 15 menit lagi pasti sampe, tapi kenyataannya kami baru sampe 45 menit kemudian :/

Halo, kami siap mendaki.
Mohon maaf pria berkaos macan, istrimu meninggalkanmu πŸ˜€

Ingat, hutan hujan di Indonesia itu lembab jadi penuh dengan pacet atau lintah. Seumur hidup baru kemaren di Flores saya ketempelan pacet beberapa kali, hehehe.. Ga ada rasanya ternyata ketempel pacet, pas mereka diambil dari kaki saya juga ga ada rasa sakitnya, cuma geli aja gendut – gendut gitu.

Apakah semua terbayar setelah berjalan selama dua jam? Ya, terbayar. Alhamdulillah. Saya bersyukur pernah pergi ke Wae Rebo. Hal yang tidak akan saya sesali walaupun basah kuyup, kalo cape siihhh yaaahhh kecil lah (sombong to the max ahahahaah).

Baru mulai aja udah nanjak

Ngaso dulu sambil minum seteguk dua teguk

Ini beberapa barang yang harus kalian bawa kalo mau mendaki ke Wae Rebo

  1. Sepatu mendaki, mengingat kita akan melewati hutan yang cukup lembab dan licin, saya pake sendal jepit waktu itu. Untung ga kenapa – kenapa :/
  2. Jas hujan. Siap selalu jas hujan di tas kamu sendiri, jangan dititip di tas orang lain. Belajarlah dari pengalaman saya :p
  3. Tas anti air. Kalo punya, kalo ga punya coba beli deh di Tokopedia. Note: Ini bukan postingan berbayar. Wehehehe
  4. Air minum. Percayalah, kalian akan sangat membutuhkan ini! Tapi bawa secukupnya aja ya, kalo emang hausan banget, 1 liter cukup, tapi kalo emang ga terlalu haus, bawa aja 500ml.
  5. Topi. Supaya ga kepanasan
  6. Tembakau. Fungsinya untuk dioles ke seluruh bagian tubuh yang terbuka supaya ga ketempelan pacet/lintah.
  7. Tongkat. Sangatlah amat membantu dan berguna tongkat ini ketika kita mendaki.

Sedikit saran, untuk temen – temen yang baru pertama mendaki. Ketika istirahat, jangan langsung duduk, kalo mau nyender boleh, tapi jangan terlalu nyaman. :p maksudnyaaa nyender ke batu gunung. Lalu, jangan kelamaan berenti, supaya heart rate kalian ga turun drastis. Jadi, pas mulai mendaki lagi ga terlalu deg – degan seperti di awal. Ingat selalu untuk menghirup nafas yang panjang.

Sementara, ceritanya segitu dulu. Kalo saya sempet, saya ceritain lagi kehidupan di sana seperti apa ya.

Kiss and Love

Iklan

Lepas Behel

Akhirnya, setelah dua setengah tahun berlalu. Saya bisa senyum lebar dengan gigi terbuka 😁

Baru seminggu lepas behel, masih terasa ada yang berbeda di mulut.

Pengalaman lepas behel itu sungguh lah luar biasa, saya pikir lepas behel itu ga heboh, ternyata heboh butuh ketok-ketok sampe bikin saya dengernya ngilu sendiri.

Namun, perjuangan belum berakhir, saya akan selalu pakai retainer dan saya akan setia memakai retainer. Harus setia supaya ga sia-sia perjuanganku dua setengah tahun ke belakang 😁😁😁

Daaahhh!!!!

Keluarga Cemara Movie Review

Sinetron Keluarga Cemara adalah sinetron jaman saya SD. I feel so relate with Keluarga Cemara, karena kampung kita sama – sama di Sukabumi. Jadi, setiap mudik ke Sukabumi (yang seminggu sekali), saya dan kakak – kakak suka berandai – andai, eh ini rumahnya Euis, itu becak abah, yang jualan opak ini ema bukan ya? Khayalan anak – anak, childhood memory.

Lalu, saya mau kasih sedikit review mengenai Keluarga Cemara Movie.

Film yang sederhana ini cukup mampu memberikan percikan segar mengenai bagaiamana kesederhanaan bisa menciptakan kebahagiaan, bagaimana kebersamaan itu yang paling penting, terlepas di mana kita berada.

Sedikit saya merasa kecewa karena settingnya ko di Bogor sih bukan Sukabumi, kampungkuuu. πŸ™‚

Udah ya review yang sedikit ini.

πŸ˜€

Bhay. Have a good day.

Hati – Hati Main Sosmed

Sebagian besar dari pemain sosial media, terutama twitter dan facebook pasti sudah tau berpulangnya Bapak Nukman Luthfie sang Bapak Social Media.

Saya senang dengan banyak pandangan alm mengenai, bagaimana sebaiknya kita ber-media sosial. Dan saya pernah juga satu kalo jadi LO nya alm ketika di kampus dulu, mmm mungkin 11 tahun yang lalu, ketika twitter baru mulai masuk ke Indonesia.

Di bawah ini saya kutip beberapa saran alm mengenai gimana sebaiknya kita menggunakan sosial media.

β€œMedia sosial itu banyak manfaatnya, terutama untuk ekspresi diri. Di sisi lain, media sosial juga bisa berdampak negatif, terutama mengganggu waktu tidur yang bisa merusak produktivitas kita, takut ketinggalan info dan perundungan.”

Pengakuan!!! Saya saat ini lagi seneng banget hal recehan dan seneng bikin kegalauan tingkat dewa untuk para followers saya. hahahaa… Saya ga ada maksud apa – apa bikin itu, cuma buat fun dan tentunya ningkatin engagement (becandaaaa) serius amat πŸ˜€ Menurut saya lebih baik daripada komentar tajam terus kepada pemerintah, twit sok mesum, atau nyinyir kepada hal lain yang semestinya ga kita urusin.

β€œMedia sosial itu jendela kecil untuk menafsir siapa kita.” 

Sebetulnya, saya di dunia nyata dan di dunia maya itu “Branding” nya hampir mirip, kenapa hampir? Ya, karena itu tadi, media sosial itu cuma jendela kecil, sebagian kecil yang saya pilih untuk bisa saya bagikan kepada temen – temen di jagat maya. Dengan personal branding melalui media sosial, pandangan followers mengenai diri kita tidak lagi didominasi oleh apa yang dikatakan oleh pihak luar seperti teman, atau keluarga, tetapi kita juga ikut mengisinya sesuai personal brand yang ingin kita bangun.Β 

Hati – hati karena kebanyakan followers tidak tau kita seperti apa, dan masih banyak orang yang perceived kita sama seperti apa yang kita tulis di sosial media. Ya kalo positif dan baik – baik bagus, kalo jelek :p

Oke geng, have a good day!

Review Passpod dan JavaMifi

Postingan ini tidak berbayar, murni pengalaman pribadi saya sebagai pengguna.

Untuk memudahkan komunikasi dan update di sosial media, ketika jalan keluar negeri, saya pasti sewa wifi dari Indonesia. Karena menurut hemat saya, membawa wifi dari Indonesia lebih mudah dan praktis, ga perlu ganti kartu, registrasi, pilih menu ini itu. Pakai wifi dari Indonesia cuma tinggal nyalain modem, masukin password. Done! Bisa langsung eksis 🀣🀣

Ini keunggulan dari Javamifi

+ Proses pemesanan dan verifikasi pembayaran sangat cepat.

+ Satu set perangkat terdiri dari modem, charger modem, dan juga universal travel adaptor. Ini sangat memudahkan terutama kalo negara yang kita kunjungi menggunakan steker (colokan listrik) yang berbeda dari Indonesia

+ Kecepatan internet cukup bagus dan cepat, baru mulai lambat ketika malam hari (pastinya karena saya udah banyak update IG Story pastiii :))

Hal yang bisa diimprove dari JavaMifi

– Meskipun mereka katakan di website kalo pengembalian bisa dilakukan di xxmart, tapi ternyata tidak. Saya pernah samperin ke lebih dari 3 xxmart untuk balikin modem tersebut, tapi semua xxmart ga ada yang tau kodenya meskipun saya udah kasih lihat code dan juga emailnya 😦

– Waktu janjian pengembalian perangkat ga jelas. Pernah saya dihubungi kalo mereka mau ambil ke rumah di Depok (weekend), namun hingga sore tiba tak kunjung ada kurir yang ambil. Lalu, saya hubungi CS dan mereka baru bilang kalo modem akan diambil besok aja di kantor saya.

Ini keunggulan dari Passpod

+ Banyak promo yang mana biasanya harga lebih murah

+ Pengantaran perangkat cukup cepat dan kurirnya “pinter”, di tengah kesibukan saat ini kita butuh banget punya kurir yang pinter kan

+ CS Responsif

+ Saya kenal sama seseorang yang jadi boss di sana (🀣) jadi kalo apa-apa tinggal mengadu. Tapi tetep ini bukan postingan berbayar ga perlu khawatir πŸ˜‚

+ Baterai tahan lama, bisa satu setengah hari!

+ Proses pemesanan mudah dan verifikasi pembayaran cepat

Hal yang bisa diimprove dari dari Passpod

– Mohon sertakan universal travel adaptor πŸ™πŸ»

– Kecepatan internet agak lambat, tapiii mungkin karena kemaren saya pake yang promo kali ya. Jadi kuota internet tidak sebesar biasanya

– Saya harus menghubungi CS untuk bertanya, kapan modemnya diambil. Harusnya CS yang menghubungi saya bertanya mengenai hal jni, karena tanggal penggunaan sampai kapan sudah cukup jelas

Ok then, sekian dulu review nya. Silakan dipilih mana yang sesuai untuk teman-teman ya πŸ˜„

New Zealand Update

Hai Hai,

Kembali lagi bersama cerita petualangan kami di New Zealand.

Kami sempat menginap di satu kota kecil yang bernama Twizel. Twizel merupakan kota yang sangat tenang (sepi), dan langitnya sangat indah di malam hari. Membuat saya sang pecinta milkyway terkagum – kagum. Agak menyesal karena ga punya kemampuan untuk foto bintang yang keren itu pake kamera yang kami bawa. Kameranya juga bukan kamera canggih, plus ga bawa tripod. Harap maklum, foto – foto bukan tujuan utama kami pas liburan, eh atau mungkin belum? haha….

Sehabis makan malem, saya ga niat kemana-mana, jadi nonton tv santai aja di kasur, terus suami iseng keluar kamar karena ada suara berisik. Pas balik kamar, dia bilang banyak turis dari China bawa kamera dengan tele panjang, lalu dia lihat ke langit bintangnya bagus banget.

Dengan berat hati, saya pake baju hangat, pake boots, pake jaket dan keluar kamar, karena udaranya cuma single digit malam itu. Keluar kamar, saya langsung lihat ke langit. Super woooowwwwwwww. Saya sampe chat Ci Inly malam itu, haha…. Lalu, kami jalan ke luar area hotel, foto – foto di kegelapan (entah apa yang difoto).

Rombongan turis China sampe nyebrang jalan menuju ke tempat gelap yang ga keliatan ujungnya (super gelap) karena memang lampu jalanan juga minim. Terus ya, saya liat bulan, saya bilang ke suami.

“Gila itu bulan deket banget”
Suami jawab “Mana bulan? Itu lampu!”
“Itu bulan!!!”
“Masa sih?”

Pas kita perhatiin iya bener bulan! Gede dan terasa deket, kaya lampu taman hihihi. Super norak!!!

Seolah – olah kita bisa samperin itu bulan, saking terasa deketnya.

Di bawah ini foto saya bersama bulan dengan settingan kamera mirrorless otomatis (alias ga kita keren2in karena males belajar :D) Bulan yang menyerupai lampu taman.

DSC_3584DSC_3585DSC_3595

Yes, segelap itu, sampe saya ketakutan (anaknya emang cemen) ga berani jauh dari suami. Terus saya bayangin turis China itu pasti dapet foto yang keren banget dengan milkyway dan bulan yang superb (mereka nyebrang ke arah bulan)!

Kalo kalian berkesempatan berkunjung ke South Island-nya New Zealand, coba masukin Twizel ke dalam itinerary, semalem aja πŸ˜€ Hope you love it as I do.

Kannnn jadi kangen Twizel!

Manusia Mabok Agama

Saya yakin, sebagian besar di sini pasti sudah tau lagi banyak manusia mabok agama, terutama di negara saya tinggal sekarang. Ini menurut pendapat saya pribadi, silakan juga dong ya kalo temen – temen punya pendapat sendiri πŸ˜€

Harus selalu inget kalo diatas langit masih ada langit, bisakah kita tidak terlalu banyak komentar akan pilihan hidup seseorang? Mohon maaf hanya sekadar mengingatkan πŸ˜€

Inget aja, dunia dan segala isinya itu bersifat dinamis. Kita ga pernah tau di masa yang akan datang, dengan siapa kita akan dekat dan saling membutuhkan, dari kalangan apa, agama apa, ras bangsa apa. Manusia akan berkembang, jika kamu pegawai, kamu pasti akan bekerja sama dengan lintas agama dan juga lintas generasi. Jika kamu berdagang, apakah kamu tidak akan membiarkan orang di luar agamamu beli barang daganganmu? Like, seriously?

Kalo kamu muslim, sebaiknya ayat ini benar – benar kamu terapkan dalam kehidupan sehari – hari “lakum dΔ«nukum wa liya dΔ«n” –Β Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”

Salam,
Puji

Nonton Guns N’ Roses

Better late than never. Nonton Guns N’ Roses kayanya merupakan salah satu highlight di 2018 and it deserves one dedicated post. πŸ˜€

So, pas ada info konser ini, saya sebenernya cool aja karena cuma tau lagunya (who doesn’t?), tapi not a die hard fans. Ga heboh mau nonton. Lalu tiba – tiba suami ngajakin nonton. Saya dengan semangat tentu saja menanyakan “HARGANYA BERAPA?” Pelit soalnya hahahahaa…. Saya ok in ajakan suami, karena kayanya ini bakalan jadi once in a lifetime moment, mengingat para anggota band sudah semakin uzur.

Long story short, nonton konser mereka seru banget. Saya bisa sing along, karena ada beberapa yang hapal (kamu juga pasti hapal kaan?). Lebih dari 3 jam saya bediri nonton konser ini, suami menyerah di sekitar 30 menit akhir menjelang konser berakhir. Dia mundur ke belakang untuk nyari ruang kosong dan duduk. Lol

Kalo temen – temen mau tanya gimana performance mereka di atas panggung, terutama suara Axl Rose. Dia masih bisa teriak – teriak siih, tapi suaranya udah kedengeran ngos-ngosan πŸ˜€

But, overall. Very worth it nonton konser mereka.

47375865_10214757244502192_2845057796536270848_n47443942_10214757473427915_1936795620727586816_n47571453_10214757471387864_2282568671630983168_n

Apakah teman – teman ada yang pernah nonton konser GnR?

A Little Throwback

Before 2019 come and 2018 gone. I’d like to share a little memorable throwback in 2018.

So, here we go

DSC_3898

DSC_3028

  1. New Zealand Trip. Me and hubby went to New Zealand for a road trip for about two weeks. It’s been an incredible journey we have had so far. If I have a chance to do it again, I will! How I miss NZ so badly! The underrated beautiful view, the people, foods, so perfect. Really thankful for The Hubby who willing to make my dream come true!
  2. DP for our new home. Thank God! This is a long-term investment I have in my life. We hope we could move to a new house in 2019. I can’t wait to have my new playground (read: kitchen)
  3. This year, I’ve traveled to some cities in Indonesia for work.
  4. Tried snorkeling for the first time in my life πŸ˜€ This is a big achievement for me who can’t swim!!!
  5. 2018 give me so many lessons, I thank God for the lessons. A bad experience makes me very careful to take the next step.
  6. Planning a business, couldn’t share it now. I’ll share once it launched.

 

I give you more NZ pictures!

DSC_3351

DSC_3192

DSC_3634

DSC_3942