Review Ramen Honolu

Hai teman-teman, kali ini saya mau review ramen halal, karena tempat ramen ini tidak menjual alkohol dan juga daging babi.

Namanya Ramen Honolu, lokasinya di Kemang, Jakarta Selatan. Silakan klik link di bawah ya untuk cek alamat lengkap beserta detail lainnya.

https://ramenhonolu.co.id

Here we go

Tokusei Toripaitan Ramen

Ramennya lembut, kaldu ayamnya terasa, telurnya perfect, bumbu charsiu meresap empuk sempurna. Kuahnya itu after taste nya ada rasa asem, semacam asem lemon tapi bukan lemon. (Btw, bukan asem karena ga fresh ya).

Spicy Karaage Ramen

Konon kabarnya karaage di sini itu terbaik, dan harus ku akui bahwa hal itu benar adanya!! Sejujurnya saya paling suka kalo karaage itu yang goreng garing, tapi nyatanya karaage dimasukin ke kuah ramen itu enak. 😆

Topping ayam di spicy karaage ramen itu ayam cincang, setelah diaduk, jadi sempurna. Oh ya, after taste kuah ini juga sama asem. Atau mungkin di belakang mereka langsung perasin lemon ya?

Tempatnya cozy dan homy. Pelayannya sigap, dan ramah. Mengerti product knowledge dengan baik.

Saran saya, datanglah ke sini setelah jam makan. Misal jam 2 siang, karena lebih mudah cari parkir, dan pastinya ga perlu nunggu waktu lama buat dipersilakan duduk.

Sekian dulu review nya. Silakan mencoba!

Iklan

SEA Aquarium Singapore, Perlukah dikunjungi?

Jawabnya adalah perlu, jika kamu suka melihat ikan, suka melihat bintang laut, dan semua makhluk hidup di laut 😀

Apakah engkau akan menemukan kebahagiaan di sana? Jawabnya adalah iya, jika balik lagi jawaban di atas. Hahahaha….

Liburan awal tahun 2019, saya dan suami sempatkan jalan – jalan ke SEA Aquarium, karena agak bosan ke USS. Well, mungkin bosan bukan kata yang tepat, lebih tepatnya adalah saya malas bertemu keramaian yang luar biasa, malas antri terlalu lama untuk menikmati satu permainan. Pengennya liburan akhir tahun 2018 itu santai aja gitu, ga ngejar apa – apa. Syukurnya juga, kepadatan di SEA Aquarium Singapore masih sangat bisa ditolerir.

Display ikan – ikan lucu di SEA Aquarium Singapore, pretty much mirip sama SEAWorld Jakarta. Tapi, setelah saya pikir – pikir lagi, emang displaynya mesti gimana coba ya hehe… Kecuali mungkin nyelem beneran.

Daripada saya banyakan ngoceh ga puguh, (ga puguh itu ga jelas) langsung liat foto – foto aja yaaa.. (yang kebanyakan gelap karena di sana gelap)

Ikan di kapal karam
Daddy Shark, Grandma Shark, Family Shark, dudududu
awas tersengatttt!!!!

Cantiknyaa kalian semua
Jangan saus padang-in akuuuu

Banyak anak yang durhaka sama orang tua, di aquarium ini. Haha
Let’s touch Patrick!

Sekian

Aquaman mana niiih katanya mau dateng

Review Fika Swedish Cafe – Singapore

The famous “Swedish Meatball”

Liburan akhir tahun kemaren, kami sempet jalan – jalan ke Singapore. Lalu, iseng pengen cobain makan di Fika dan hasilnya tidak mengecewakan bahkan menggembirakan.

Review makanan:

Swedish Meatball (foto di atas) menurut saya, ini sangat – sangat lebih enak dibandingkan dengan swedish meatball dari ikea. Meatball nya empuk, sausnya creamy dengan kekentalan yang pas ditambah sauce lingonberry yang memperkaya rasa daging. Disajikan panas, fresh from the pan! Nilai 9/10.

Fishermans Pasta


Fishermans Pasta consist of linguine pasta, mussels, white fish, squid, and prawn. Served with a lemon-butter sauce, and topped with fresh rocket leaves and cherry tomatoes. My husband’s favorite. Entah kenapa he always loves food which has lemon inside 🙂 Anyway, I love it too, nilai 9/10.

Order this drink, I forgot the name and coffee for hubby

The ambiance

Fika is located at 257 Beach Road near to Haji Lane area (the photogenic street on Singapore I guess)

Good thing for my Moslem friend, Fika is a halal restaurant! Jadi, bisa banget nih jadi pilihan kalo abis cape foto – foto di Haji Lane, mau Fika di sini 😀 Enjoy!

Sampe jumpa di review dengan foto seadanya.

bonus foto ahhahaahah

Tack!

2 Jam Mendaki demi Wae Rebo

Hi kawan, apa kabarnya? Semoga dalam keadaan baik.

Minggu lalu, saya dan suami pergi mengunjungi Flores, NTT. Salah satu highlight dari perjalanan itu adalah, mendaki gunung selama dua jam, untuk melihat desa Wae Rebo.

DESA Wae Rebo di Flores, NTT yang terletak pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut ini layaknya sebuah surga yang berada di atas awan.

Wae Rebo, I Love you

Wae Rebo is an old Manggaraian village, situated in pleasant, isolated mountain scenery. The village offers visitors a unique opportunity to see authentic Manggarai housing and to experience the everyday life of the local community. In the village of Wae Rebo, visitors can see mbaru niang – traditional, circular cone-shaped houses with very unique architecture. Nowadays, it is still a place to hold meetings, rituals and Sunday-morning prayers together. source: http://florestourism.com/districts/wae-rebo-village/

Sungguh penuh perjuangan untuk bisa mencapainya, terutama bagi mereka yang jarang olahraga. Saya tiba di sana setelah mendaki kurang lebih 9km selama dua jam, (agak congkak memang, sedangkan suami tertinggal 30 menit di belakang saya, hueheheheh).

Iya mendaki, karena memang selalu menanjak jalannya 😦 Udah gituuuu, ditambah dengan hujan, awalnya rintik – rintik imut, lalu lama kelamaan menjadi cukup deras. Sedihnya adalahhhhh, jas hujan saya titip di tas suami, mungkin ini balasan dari Tuhan kepada saya yang meninggalkan suami di belakang, wkwkwkwwk….

Saya dan rombongan yang di depan, selalu penasaran. Ini kapan sampenya siiih, perasaan kita kalo berenti cuma sekadar minum seteguk – dua teguk lalu lanjut jalan lagi. ahhahaahah… Pernah satu kali, kami ketemu orang yang turun gunung, si kakak itu bilang 15 menit lagi pasti sampe, tapi kenyataannya kami baru sampe 45 menit kemudian :/

Halo, kami siap mendaki.
Mohon maaf pria berkaos macan, istrimu meninggalkanmu 😀

Ingat, hutan hujan di Indonesia itu lembab jadi penuh dengan pacet atau lintah. Seumur hidup baru kemaren di Flores saya ketempelan pacet beberapa kali, hehehe.. Ga ada rasanya ternyata ketempel pacet, pas mereka diambil dari kaki saya juga ga ada rasa sakitnya, cuma geli aja gendut – gendut gitu.

Apakah semua terbayar setelah berjalan selama dua jam? Ya, terbayar. Alhamdulillah. Saya bersyukur pernah pergi ke Wae Rebo. Hal yang tidak akan saya sesali walaupun basah kuyup, kalo cape siihhh yaaahhh kecil lah (sombong to the max ahahahaah).

Baru mulai aja udah nanjak

Ngaso dulu sambil minum seteguk dua teguk

Ini beberapa barang yang harus kalian bawa kalo mau mendaki ke Wae Rebo

  1. Sepatu mendaki, mengingat kita akan melewati hutan yang cukup lembab dan licin, saya pake sendal jepit waktu itu. Untung ga kenapa – kenapa :/
  2. Jas hujan. Siap selalu jas hujan di tas kamu sendiri, jangan dititip di tas orang lain. Belajarlah dari pengalaman saya :p
  3. Tas anti air. Kalo punya, kalo ga punya coba beli deh di Tokopedia. Note: Ini bukan postingan berbayar. Wehehehe
  4. Air minum. Percayalah, kalian akan sangat membutuhkan ini! Tapi bawa secukupnya aja ya, kalo emang hausan banget, 1 liter cukup, tapi kalo emang ga terlalu haus, bawa aja 500ml.
  5. Topi. Supaya ga kepanasan
  6. Tembakau. Fungsinya untuk dioles ke seluruh bagian tubuh yang terbuka supaya ga ketempelan pacet/lintah.
  7. Tongkat. Sangatlah amat membantu dan berguna tongkat ini ketika kita mendaki.

Sedikit saran, untuk temen – temen yang baru pertama mendaki. Ketika istirahat, jangan langsung duduk, kalo mau nyender boleh, tapi jangan terlalu nyaman. :p maksudnyaaa nyender ke batu gunung. Lalu, jangan kelamaan berenti, supaya heart rate kalian ga turun drastis. Jadi, pas mulai mendaki lagi ga terlalu deg – degan seperti di awal. Ingat selalu untuk menghirup nafas yang panjang.

Sementara, ceritanya segitu dulu. Kalo saya sempet, saya ceritain lagi kehidupan di sana seperti apa ya.

Kiss and Love

Review Passpod dan JavaMifi

Postingan ini tidak berbayar, murni pengalaman pribadi saya sebagai pengguna.

Untuk memudahkan komunikasi dan update di sosial media, ketika jalan keluar negeri, saya pasti sewa wifi dari Indonesia. Karena menurut hemat saya, membawa wifi dari Indonesia lebih mudah dan praktis, ga perlu ganti kartu, registrasi, pilih menu ini itu. Pakai wifi dari Indonesia cuma tinggal nyalain modem, masukin password. Done! Bisa langsung eksis 🤣🤣

Ini keunggulan dari Javamifi

+ Proses pemesanan dan verifikasi pembayaran sangat cepat.

+ Satu set perangkat terdiri dari modem, charger modem, dan juga universal travel adaptor. Ini sangat memudahkan terutama kalo negara yang kita kunjungi menggunakan steker (colokan listrik) yang berbeda dari Indonesia

+ Kecepatan internet cukup bagus dan cepat, baru mulai lambat ketika malam hari (pastinya karena saya udah banyak update IG Story pastiii :))

Hal yang bisa diimprove dari JavaMifi

– Meskipun mereka katakan di website kalo pengembalian bisa dilakukan di xxmart, tapi ternyata tidak. Saya pernah samperin ke lebih dari 3 xxmart untuk balikin modem tersebut, tapi semua xxmart ga ada yang tau kodenya meskipun saya udah kasih lihat code dan juga emailnya 😦

– Waktu janjian pengembalian perangkat ga jelas. Pernah saya dihubungi kalo mereka mau ambil ke rumah di Depok (weekend), namun hingga sore tiba tak kunjung ada kurir yang ambil. Lalu, saya hubungi CS dan mereka baru bilang kalo modem akan diambil besok aja di kantor saya.

Ini keunggulan dari Passpod

+ Banyak promo yang mana biasanya harga lebih murah

+ Pengantaran perangkat cukup cepat dan kurirnya “pinter”, di tengah kesibukan saat ini kita butuh banget punya kurir yang pinter kan

+ CS Responsif

+ Saya kenal sama seseorang yang jadi boss di sana (🤣) jadi kalo apa-apa tinggal mengadu. Tapi tetep ini bukan postingan berbayar ga perlu khawatir 😂

+ Baterai tahan lama, bisa satu setengah hari!

+ Proses pemesanan mudah dan verifikasi pembayaran cepat

Hal yang bisa diimprove dari dari Passpod

– Mohon sertakan universal travel adaptor 🙏🏻

– Kecepatan internet agak lambat, tapiii mungkin karena kemaren saya pake yang promo kali ya. Jadi kuota internet tidak sebesar biasanya

– Saya harus menghubungi CS untuk bertanya, kapan modemnya diambil. Harusnya CS yang menghubungi saya bertanya mengenai hal jni, karena tanggal penggunaan sampai kapan sudah cukup jelas

Ok then, sekian dulu review nya. Silakan dipilih mana yang sesuai untuk teman-teman ya 😄

New Zealand Update

Hai Hai,

Kembali lagi bersama cerita petualangan kami di New Zealand.

Kami sempat menginap di satu kota kecil yang bernama Twizel. Twizel merupakan kota yang sangat tenang (sepi), dan langitnya sangat indah di malam hari. Membuat saya sang pecinta milkyway terkagum – kagum. Agak menyesal karena ga punya kemampuan untuk foto bintang yang keren itu pake kamera yang kami bawa. Kameranya juga bukan kamera canggih, plus ga bawa tripod. Harap maklum, foto – foto bukan tujuan utama kami pas liburan, eh atau mungkin belum? haha….

Sehabis makan malem, saya ga niat kemana-mana, jadi nonton tv santai aja di kasur, terus suami iseng keluar kamar karena ada suara berisik. Pas balik kamar, dia bilang banyak turis dari China bawa kamera dengan tele panjang, lalu dia lihat ke langit bintangnya bagus banget.

Dengan berat hati, saya pake baju hangat, pake boots, pake jaket dan keluar kamar, karena udaranya cuma single digit malam itu. Keluar kamar, saya langsung lihat ke langit. Super woooowwwwwwww. Saya sampe chat Ci Inly malam itu, haha…. Lalu, kami jalan ke luar area hotel, foto – foto di kegelapan (entah apa yang difoto).

Rombongan turis China sampe nyebrang jalan menuju ke tempat gelap yang ga keliatan ujungnya (super gelap) karena memang lampu jalanan juga minim. Terus ya, saya liat bulan, saya bilang ke suami.

“Gila itu bulan deket banget”
Suami jawab “Mana bulan? Itu lampu!”
“Itu bulan!!!”
“Masa sih?”

Pas kita perhatiin iya bener bulan! Gede dan terasa deket, kaya lampu taman hihihi. Super norak!!!

Seolah – olah kita bisa samperin itu bulan, saking terasa deketnya.

Di bawah ini foto saya bersama bulan dengan settingan kamera mirrorless otomatis (alias ga kita keren2in karena males belajar :D) Bulan yang menyerupai lampu taman.

DSC_3584DSC_3585DSC_3595

Yes, segelap itu, sampe saya ketakutan (anaknya emang cemen) ga berani jauh dari suami. Terus saya bayangin turis China itu pasti dapet foto yang keren banget dengan milkyway dan bulan yang superb (mereka nyebrang ke arah bulan)!

Kalo kalian berkesempatan berkunjung ke South Island-nya New Zealand, coba masukin Twizel ke dalam itinerary, semalem aja 😀 Hope you love it as I do.

Kannnn jadi kangen Twizel!

Yang dirindukan ketika liburan di Eropa

Pas perjalanan ke Eropa kemaren menurut saya di saat itulah saya kangen banget sama makanan Indonesia. Waktu ke Amrik ga terlalu rindu, soalnya makan malem masih suka cari Asian Food, entah itu Korean, Chinese atau Thai food. Tapi pas ke Eropa kemaren beneran tersiksa. Well, (penggunaan kata tersiksa sungguh lebay) karena sebenernya saya beberapa kali makan Indonesian food!

Selama di Eropa pun sebenernya terbatas juga saya makan makanan khas negeri yang lagi saya kunjungin. Paling coba Beef Turinger aja di Erfurt, Jerman atau udah pasti makan pizza dan pasta di Italy. Sisanya, makan kebab atau roti – rotian atau buah – buahan. Jiwa petualang kuliner saya pengen makan yang beda sebetulnya, namun karena takut dagingnya mengandung babi jadi kami sebisa mungkin cari yang aman.

Oh ya, berhubung saya penggila pasta dan lidah ini sangat akrab dengan pizza, maka makanan di Italy menjadi pelipur lara selama perjalanan di Eropa. Selain Italy, Belanda juga pelipur lara karena banyak restaurant Indonesia 🙂

Ketika nginep di Ibis Berlin, kami bahagia bukan kepalang karena ada kios chinese food di deket hotel. Hari pertama kami pesen mie goreng bebek, hari kedua pesen nasi goreng ayam. Pastinya, tidak lupa saya bawa sambel bu rudy untuk memanjakan lidah saya yang pedas ini :p

Di Berlin pun, kami makan Indonesian food dengan porsi super besaaaarrr, makan di restaurant itu bareng temennya suami saya. Makanannya cukup otentik, enak. Suami bahagia karena dia pesen teh botol.

Selain makanan, saya rindu kamar dan rumah di Indonesia. Udah itu aja, sisanya ga rindu 😀

DSC_0997
Deretan Pastry Enak di salah satu kios di Paris

Have a good thursday 🙂

 

The Hobbit’s Journey

What can I say besides grateful that I could finally visit one of my bucket list country, New Zealand?

This post will be specific talk about one of my journey in New Zealand. Experience the real Middle-earth™ at the Hobbiton™ Movie Set

Here is from their official web :

Fall in love with the Alexander family sheep farm, just as acclaimed director Sir Peter Jackson did, as you journey through the unequivocal beauty of the land, with the mighty Kaimai Ranges towering in the distance. Your guide will then escort you around the set, showing the intricate detailing, pointing out the most famous locations and explaining how the movie magic was made.

You will be fully guided around the 12-acre set; past Hobbit Holes™, the Mill and into the world-famous Green Dragon™ Inn, where you will be presented with a complimentary, exclusive Hobbit™ Southfarthing™ beverage to conclude your own Middle-earth™ adventure.

We depart from MataMata I-Site. The I-site easy to find, we park our car and re-registration. We booked the ticket in Jakarta, just in case.

DSC_3004.JPG
MataMata I-Site

DSC_3005.JPG

I believe most of you, have watched The Lord of The Rings movie many times. And the movie set as good as its look on the movie. OMG.

DSC_3011DSC_3020DSC_3021

The weather was perfect. The blue sky, a green green grass, hobbit hole.

DSC_3101.JPG
The sunshine so bright

We take approximately 2 hours to enjoy the site. The tour guide really nice, he waits patiently while the group tour taking a (lot of) picture. He thanks us because bring the sun along 😀

What a lovely cloud. My love!

They are really taking care of this site.

Luke, the tour guide explain us about the history of this site as well as the untold story behind the filmmaking.

We enjoyed a ginger beer right after the tour

Visit Hobbiton Movie Set A very great memory to us 🙂

Europe Trip – My Dream Come True

Mengingat sekarang banyaknya foto bertebaran teman – teman saya lagi di Eropa (entah mengapa) saya mau share sedikit tentang Europe Trip.

Alkisah saya liat gambar Keukenhof di salah satu majalah, saya mengagumi bunga – bunga bertebaran di majalah tersebut. Dalam hati saya bilang, Someday, I will be there!

Jadi, salah satu tujuan kami ke Eropa ya mau kunjungin Keukenhof. Ya walaupun pas kesana Keukenhof baru buka 3 hari, saya seneng bukan main. Meskipun, saya tau kalo banyak bunga yang belum mekar sempurna. Tapi itu tidak menyurutkan niat dan juga kebahagiaan saya. Tiket Keukenhof sudah di beli. (Thanks buat Mba Deny yg udah aku tanya mengenai ini). Mendarat di bandara Schipol dengan selamat, titip bagasi di locker. Tujuan utama kami yaituuuuu langsung meluncur ke Keukenhof.

Pas di Belanda, meskipun suhunya dingin untuk orang tropis macam kami ini tapi karena ada matahari yang terik jadi sangat nyaman buat jalan-jalan. Super love suhu Belanda pada waktu itu.

Keluar bandara langsung antri bus untuk ke Keukenhof. Super yeayyyy, ngeliat kincir angin. OMG norak, bodo amat!!! ngeliat hamparan hijau yang tenang, langit biru, burung – burung liar, cuaca pas, jalanan lancar, tertib, aahhh ada perasaan cinta di hati ini….

Kami baru turun pesawat 2 jam yang lalu, tapi hati happy 🙂

Setelah perjalanan sekitar satu jam, nyampe juga. Meskipun baru buka 3 hari, tapi Keukenhof ternyata sudah ramai!

Keukenhof, just like what I’ve imagined of.

Pintu masuk. Look at that lovely sky. No edit.

Belom semua bunga mekar sempurna. But, I’m happy (still)

 

Tapi, saya merasa unik juga si pohon – pohon kering dan bunga yang belum mekar sempurna, jadi ada warna tersendiri menurut saya 🙂

Kalo disuruh balik lagi ke Keukenhof. Mauuuu!!!!

Liat taman bunga di belahan Belanda lainnya juga mau 🙂

Duh, rindu 🙂

Cocok ga aku jadi tukang bunga

 

Top Of Europe – Jungfraujoch Swiss

Ga pernah terpikir sebelumnya bisa naik gunung di Eropa. Walaupun naik gunungnya cuma tinggal duduk manis di kereta :D. Super banget deh emang masalah transportasi di Eropa!

Jadi, hampir setahun yang lalu kami jalan – jalan ke Swiss (woww, time flies). Kami emang niat cari tempat yang suasana kampung dan desa (maap kita anak kota :D). Kami dalam arti suami ya. Dia kekeuh banget mau ke Interlaken-lah, Wilderswil-lah, dsb. Apa siih ada apa di situ. Istri kesel suami banyak maunya hihi.. Akhirnya saya google bisa ngapain aja di sana, ternyata kita bisa ke Top of Europe alias Jungfraujoch.

Perjalanan ke Jungfraujoch sebenernya cepet, tapi karena itu kereta mendaki naik – naik ke puncak gunung, tinggi – tinggi sekali. Kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemaraa aaa… Nyanyi ciee. Jadi kereta jalannya pelan. Biar pelan asal selamat.

 

DSC_0682
Siap – siap ke ketinggian 3454m 🙂

DSC_0684
Dapet semacam “passport” yang dikasih setelah kita transaksi di stasiun kereta

DSC_0685
Ini pas sampai di stasiun Jungrfau, Stasiun ini di dalam gunung.

 

Hati – hati bagi temen – temen yang mau ke sini, mesti cek kondisi cuaca (walaupun belom tentu bener juga). Karena saya lihat di apps cuaca kondisinya di atas ada matahari, yang mana harapan saya untuk foto dengan latar gunung tertutup es. Namun, kenyataan berkata lain. Sampe atas itu malahan badai salju zzzz… Udah ditunggu sejam juga ga berenti itu badai. Jadi, dapetnya cuma ini doang

 

DSC_0690
Suhunya minus 13 derajat, yang putih berterbangan di depan saya itu salju, bukan ketombe.

 

Liat foto saya di atas? harusnya dari posisi itu, di belakang saya bisa keliatan gunung keren macam foto di bawah ini

 

Sumber

 

Kebayang kaannn, betapa apa yang terjadi – terjadilah, tanpa kita bisa berbuat apa – apa. Kalo saya ditanya apa saya sedih? Ga sedih, cuma greget sama sedikit jengkel aja. Sedikit ko beneran deh, karena saya niat balik lagi (yang entah kapan). Haha. Bucketlist tambahan.

Oh ya, pas sampai di atas sini suami saya sempet kena hipoksia. Right after kita turun dari kereta. Saya pikir, ini kamu lebay apa mas? Ternyata my mochi beneran sesek. Saya tawarin mau beli oksigen ga tapi kayanya dia bisa sehat cuma perlu istirahat sebentar dan minum anget alias kopi. Akhirnya sembuh 😀 Puji Tuhan. Bukti doi sembuh adalah foto di bawah ini. Tuh liat dia lompat 🙂

 

DSC_0695
Nanti kita balik ke sini lagi ya, sayang. :p

 

Oh ya, kalo mungkin aja nih ada yang penasaran kenapa kita ga langsung naik lagi keesokan harinya, karena harga tiket untuk 1 orang itu 2,5 juta 😀 Yaa, nabung dulu untuk 3 tahun lagi mungkin baru bisa balik lagi hihi.

OMG, nulis ini aja kangen Swiss. Nanti kalo ga males, saya akan tulis kenapa saya kangen sama Swiss.

Auf Wiedersehen