Bedanya RoadTrip di NZ dan USA

Hai, di post kali ini, saya mau sharing bedanya roadtrip di New Zealand dan juga USA.

Tentu saja, ada beberapa perbedaan ya. Karena luas negara dan juga kontur alam yang beda.

  • Pemandangan. Udah jelas kalo roadtrip di New Zealand pemandangannya kebanyakan hamparan hijau, yang sering ada domba atau sapi. Sejuk dan ademmm di mata karena melihat padang rumput hijau, atau pohon – pohon tinggi dengan daun kekuningan (karena waktu kami roadtrip sedang masuk musim gugur)
Salah satu contoh pemandangan selama roadtrip di New Zealand

Kalo di US, pemandangannya kebanyakan bukit, batu – batu besar. kesannya tandus dan kering, padahal mah tetep aja anginnya dingin πŸ˜€

Pemandangan bukit – bukit di USA
  • Kontur jalan dari satu kota ke kota lainnya di USA kebanyakan jalannya luruuusss kaya ga ada ujungnya, kalo di NZ jalannya lebih kelok berliku.
Kebanyakan jalan di US lurus terus, blas.
Jalan kelok berliku, ketemu ijo – ijo, sapi/domba di NZ
  • Rest Area, ya karena jika dihitung dari jumlah penduduk USA lebih banyak, tentu saja lebih banyak rest area di USA dibandingkan NZ ya. Terus, meskipun menurut review rest area atau kota transit di NZ dibilang rame, tetep kalah rame sama USA πŸ™‚ Isi bensin lebih tenang pas di USA memang, dibandingkan NZ hehe.
  • Kota transit, kota transit lebih lengkap dan lebih besar di USA pastinya, kan. Setiap transit ke satu kota, saya lihat ada restauran yang jual fried chicken ala rumahan aja atau pizza, hati ini langsung terasa tenang hahahaha. Sedangkan ketika sampai di kota transit di NZ tetep aja sepiiii, sudah cukup puas kalo ketemu supermarket yang lengkap, bisa beli daging sapi/domba dan bisa beli buah – buahan serta ketemu instant rice. Hehe. Penting!
Twizel, salah satu kota transit di NZ, meskipun ada rumah penduduk, tetep terasa sepi buat saya. But, I Love It!
  • Luas Jalan. Luas jalan di NZ ya ukurannya masing – masing dua line untuk kiri dan kanan, lalu karena ga pernah macet, jadi, terasa lebih lapang dibandingkan dengan jalanan di Jawa misalnya. Kalo luas jalan di USA sih, jangan ditanya, minimal 3 – 4 line deh. Udah gitu ukuran mobil di USA kan banyakan gede ya, termasuk ketemu kontainer yang super panjang, termasuk di jalan pedesaan. Dan juga ketemu banyak truk yang mukanya aneh-aneh. Aneh di sini dalam artian saya ga biasa lihat di Indonesia. Awalnya saya norak liat itu semua hahahahaa. Lama – lama, ya udah biasa aja. Oh ya, luas jalan tol di kota besar di USA juga, buset deh, bikin orang yang baru nyetir agak deg-degan. Beberapa kali saya dan suami kelewatan exit toll, jadi mesti exit di pintu setelahnya. Ga bisa tuh kaya di Indo, persiapannya cuma sekitar 1km menjelang exit :p

Kalo disuruh milih, lebih suka roadtrip di NZ atau di USA, saya ga akan bisa milih. Karena pengalaman dan serunya beda πŸ˜€

Bikin tulisan ini, bikin saya kangen roadtrip. Semoga dua tahun lagi udah aman pergi roadtrip, saya pengen ngerasain roadtrip di Eropa. Gapapa ya, mimpi aja dulu πŸ™‚

Stay safe teman – teman.

Yosemite National Park

Suami so excited, mau ke Yosemite National Park. Every time he explained about Yosemite to me, I just can only said “ooo, ooo, or hah heh, hmm”

Ini penjelasan yang saya ambil dari wikipedia mengenai Yosemite National Park

Yosemite National Park is in California’s Sierra Nevada mountains. It’s famed for its giant, ancient sequoia trees, and for Tunnel View, the iconic vista of towering Bridalveil Fall and the granite cliffs of El Capitan and Half Dome. In Yosemite Village are shops, restaurants, lodging, the Yosemite Museum and the Ansel Adams Gallery, with prints of the photographer’s renowned black-and-white landscapes of the area.

Aslinya lebih bagus lagi daripada foto dong dong ya. Kami sampai sini masih agak pagi, sekitar jam 9, jadi masih cepat dapat parkir, ga lama kemudian, mobil berdatangan, pengunjung semakin banyak. Tapi tetep keliatan lowong sih saking gedenya ini National Park, cuma keliatan padet pas di restaurant dan di tempat parkir.

Sehabis parkir mobil, saya dan suami jalan kaki mengikuti jalan setapak. Udaranya sejuk, bersih banget, super bersih. Hirup udara dalem – dalem rasanya sejuk dan seger masuk ke paru – paru. Biasa deh, kalo ke tempat kaya gini, pasti langsung mikir, seandaiiinyaaa di Indonesia, ada National Park yang dikelola secara baik seperti ini hehe.

Oh ya, di semua National Park yang saya datengin, selalu ada informasi bahwa tidak boleh menerbangkan drone tanpa izin. Bagus ya peraturannya ketat, jadi ga polusi udara.

Cantiknya πŸ™‚ Keliatannya sepi ya, padahal kanan kiri saya rame yang lagi ambil foto juga πŸ™‚

What a beautiful moment!

Makanan Selama di US

Paling gampang buat saya cerita soal makanan yang saya makan, karena food is life.

Kali ini saya mau cerita soal makanan yang kami makan sehari – hari waktu liburan di US. Untuk beberapa makanan khusus, seperti pastrami on rye, atau Burgernya Gordon Ramsey, akan saya review di kemudian hari.

Yang udah pasti ikut kami dari Indonesia adalah sambel bu rudy. Rasanya sungguh mengobati kerinduan akan cabaiiii.

Kami berdua sebenernya tidak harus sarapan di pagi hari, jadi seringnya brunch gitu. Misal, langsung makan ayamnya popeye atau KFC. Enak. Setiap ke restoran chain yang jual fried chicken, saya pasti selalu bahagia makan biscuitnya. Biscuit punya suami pun saya yang makan πŸ˜€

Saya share beberapa makanan yang saya foto ya, in between ini, kami makan noodle cup, fried chicken, beli buah di supermarket, burger, pizza, beef steak. Kalo di theme park, kami makan yang ada aja di sana. Rata – rata sih burger, fried chicken, turkey leg, churros, es krim.

Clam chowder with sourdough bread. Fav all the time, sampe makan berkali-kali.
Eri’s favorite burger beside Fergburger. Dia rela kalo makan ini tiap hari.
My fav, di mana pun! US portion always too much for us, biasanya kita cuma tambah 1 side dish lagi.
Fried chicken in small town β€œLee Vining” restaurant. Eri’s favorite and mine as well. Juciy inside, crunchy outside. Btw, ini menu 1 porsi dapet 3 potong ukuran jumbo. Kentang, sayur, dan ada salad juga.
Selain taco(s) kami juga sangat menikmati mexican food. Ini makanan yang saya pesan ayam something (lupa)
Pesanan suami, beef something. Dia juga doyan. Kayanya dia doyan semua makanan di sini
Thai food!!!
Thai food, waktu ketemuan with Christa and Fam.
Tryin southern food. Ikan lele dan jambalaya. Sebenernya restaurant ini jual menu aligator, tapi kami ga berani cobain 😳
Long churros!
Turkey leg
Giant donuts from Lard Lad Springfield. Barrrrrttt Simpson
A humble beef noodle for windy Niagara Falls
Beef Taiwanese Noodle
Chicken ramen
Mexican!!!

Ketemu Komodo

Sekitar setahun yang lalu, saya pergi ke pulau Komodo. Selain pergi ke Wae Rebo, salah satu itinerary perjalanan saat itu tentu saja melihat Komodo.

Awalnya, saya sempet khawatir ga jadi liat komodo. Berhubung hari itu tiba – tiba cuaca lautnya kurang bersahabat, yang membuat kru travel bikin beberapa perubahan jadwal secara mendadak. Salah satunya kami ga bisa berkunjung ke Pulau Padar dan Pink Beach 😦 Tapi, diganti dengan Wae Rebo. Yang untungnya, ke Wae Rebo bener – bener kasih pengalaman berbeda.

Balik lagi cerita Komodo. Jadi, kami mengunjungi pulau Rinca untuk melihat Komodo. Saya ngeri juga awalnya sama komodo, takut aja gitu tiba – tiba si komodo ada di sebelah saya pas lagi jalan. Ternyata, sepanjang kita berkeliling di Pulau Rinca, kita bakal dikawal oleh tiga orang ranger. Jadi, jangan jauh – jauh dari mereka.

Senang pastinya bisa ketemu hewan yang ada dari jaman purba. Komodo itu keliatannya tenang diem, jalannya pelan juga, tapi ternyata sungguh menghanyutkan. Liurnya mengandung banyak racun, untuk melumpuhkan musuh, dan mereka biasanya makan mangsanya sampai ke tulang – tulang. FYI, komodo itu hewan yang tidak memiliki kasih sayang. Mengapa begitu? Karena, anaknya aja bakalan dia makan. Telurnya ga akan dia makan, tapi begitu menetas, akan dimakan. Makanya, kita mungkin akan ngeliat anak komodo ada di atas pohon, karena dari kecil mereka udah insting akan jadi santapan komodo lainnya.

Beratnya hidup jadi komodo hahahaa….

Haiiiii
Pintu masuk menuju Pulau Rinca. Jadi, pulau Rinca khusus tempat tinggal komodo, dan beberapa rumah tempat tinggal para ranger.
Kapal kita parkir di depan pintu masuk pulau rinca, liat deh, dua foto di atas. ada tulisan “loh buaya” karena katanya di area sekitar kita parkir kapal, dan jembatannya banyak buaya. Tapii untuuung kemaren ga liat buaya.
Komodo lagi ngaso. Meskipun terlihat santai, jangan berani mendekat
Be careful!

Adakah yang udah pernah liat Komodo secara langsung? Takut gaaaa?

Gempa di San Francisco

Di hari sabtu pagi, masih ngantuk dan cape, karena semalam kami baru sampe dari Jakarta. Sekitar jam 9 pagi, saya bergegas ke toilet, suami masih tidur2an di kasur hotel, masih males-malesan lahhhh.

Saya, bergegas ke kamar mandi, pas duduk di toilet, baru juga beberapa detik, saya ngerasa ada suara, terus goyang sedikit, saya pikir suami saya jalan menuju arah toilet haahahahaha… Lanjut, hotelnya kaya di tabrak sama bis/truk. Saking saya duduk di toilet terus sampe bergerak kaya kedorong gitu loh.

Langsung, teriak manggil suami saya. Massss, coba liat, hotel kita ditabrak apa? Sambil deg-degan, suami bilang kayanya gempaaa. ga ada suara apa-apa lagi. Akhirnya saya cek twitter, ternyata beneran gempa sekitar 4SR.

Begitulah, penyambutan hari pertama kami di Amerika. πŸ˜€

Salah Stasiun

Jalan – jalan, tentunya kebanyakan berakhir dengan cerita dan kisah yang bahagia, begitu bukan? Tapi, kadang namanya manusia, ga semua kehidupan berjalan sempurna, termasuk ketika jalan – jalan. Contohnya waktu saya pergi ke US bulan Oktober kemarin.

Berhubung saya lebih cekatan dalam hal cek email, dan booking membooking, maka kegiatan booking dan konfirmasi ketika kamu berpergian akan dikirimkan ke email saya. Lalu, saya bertugas untuk meneruskan informasi itu ke suami, dst.

Jadi, ketika kami lagi di kamar hotel di New York, suami tanya. “Besok alamat stasiun bus buat ke Washington di mana?” Saya langsung google. “Oh di sini”. Ok. Berhubung lokasinya lumayan jauh dari tengah kota, kami berangkat agak pagian. Supaya biaya transportasi lebih murah, tentu saja kami naik subway kan sambil geret – geret koper.

Sampe di stasiun, jam 8.30. Bis kami berangkat jam 9. Tapi kok, diliat – liat, ga ada kode bis yang akan kami naiki. Lalu, suami tanya ke petugas. Petugas bilang, kalo greyhound (bis yang kami pakai) mulai jalan jam 10. Kalian coba aja ke dalam, tanya ke petugasnya. Begitu sampe dalam stasiun, petugasnya belum buka.

Saya, mulai panik. mati guaaa jangan – jangan salah tempat. Lalu, saya cek tiket di hp dengan deg – degan, ternyata bener dong kalo saya salah stasiun. 😦 Huhuhu, pas kita cek pun, kalo kita ngejar naik taksi (yang mana biayanya 80 USD) tetep ga bakal ke kejar tepat waktu. Sambil takutttt saya bilang, tapi kita mesti beli tiket sekarang, kalo engga ga kebagian.

Akhirnya sambil duduk di stasiun yang sama, saya langsung beli tiket bis baru, yang mana selisih sekitar 1 jam dari jam pas saat saya pesen dan keberangkatannya tetep harus dari stasiun yang seharusnya. Suami udah ga mau marah kayanya, karena cape hehe.. Maacih bebeb. (Meskipun dalam hati saya masih takuut dimarahin wkwkw).

Setelah tiket kebeli, jalan lagi lah kita ke subway, geret koper lagi, naik turun tangga jangan lupa. Udah deg2an karena kedatangan kita bakalan deket banget sama waktu berangkat si bis. Huhuhuhu, mau nangis.

Meskipun nyesel karena ga liat detail stasiun dari tiket, juga gimanaaaa. Aku tak bisa menyesali yang sudah terjadi, kawan.

Dalam hati di subway cuma bisa berdoa, semoga bis nya belom jalan pas kita sampe. Lalu, sampailah kita di stasiun, selisih sekitar 15 menit sebelum bis berangkat. Semua orang sudah naik bis satu per satu. Ada satu orang petugas yang ngeliat kalo kita clingak – clinguk cari nomer bus nya, dia baik dan bilang tenang, itu bis nya masih ada dan kalian ga bakal ditinggal.

Kami, jadi orang yang paling terakhir naik. Pfiiiuuuuhhhh….. Yang ada syukurnya dikit jadi penumpang paling terakhir naik bis, karena bisa duduk di kursi paling depan πŸ˜€ Kenapa begitu? Karena, sejatinya kursi paling depan ditempatkan untuk manula atau difable people, berhubung hari itu ga ada manula dan atau difable people yang naik bis, maka kursi tersebut kosong dan boleh kami dudukin.

Pelajaran berharga, selalu cek alamat tempat bis bakal mengangkut kita, di tiketnya. Di Tiket, bukan di google. hahahaha….

Review Ruth Chris Steakhouse – Jakarta

Dalam rangka melaksanakan perayaan ulang tahun saya, pada 26 November lalu. Saya dan suami, mencoba restaurant steak yang lokasinya deket banget sama kantor saya. Cuma jalan kaki. Namany Ruth Chris Steakhouse – Jakarta.

Sebelum dateng ke tempatnya, saya udah booking dulu melalui Zomato. (Bukan iklan) Gampang ternyata booking lewat Zomato, 1 hari sebelum tanggal reservasi, pihak restaurant telp saya, untuk menanyakan konfirmasi reservasinya.

Kami sampai tempat makan sekitar pukul 18.30

Langsung pesen makanannya. Supaya ga bingung, kita pesen menu paketnya aja ya. Sebelum datang ke sini, saya udah wanti – wanti suami. Ini steak a la new york, jadi jangan heboh minta sauce, karena kita bakalan nikmatin dagingnya, bukan sauce nya. Awas juga jangan minta chili sauce. hahaha….

Di bawah ini review makanannya ya.

Ruth’s Carpaccio, irisannya pas, dingin daging juga pas.
Crab and Corn Chowder. Masih enakan Clam Chowder di SF πŸ˜€
Kami pesan, US Prime Ribeye dan US Prime New York. Punya saya medium well, punya suami medium. Tapi dia lebih suka rasa yang medium well, saya lebih suka rasa daging yang medium. Jadi, kami iris – irisan, saling kasih daging hehe.. Hati – hati, piringnya juga panas.
Two sides: pan-roasted wild mushroom dan creamed spinach. Suka dua – duanya. Spinachnya kayanya dimasak pake cooking cream gitu, tapi ga bikin enek.
Sebenernya di dalam paketnya, udah terdapat dessert juga. Cumaaa berhubung kami makan dalam rangka saya ulang tahun, saya minta suami untuk ngomong ke pelayan baik hati kita, kalo saya ulang tahun. Jadilah dapet kue dan ada tulisan happy birthday.
Muka bahagia dan kekenyangan.

Apakah semua makanan tersebut habis? Tentu saja tidak dong, karena porsinya super banyak. Sampe si bapak pelayan kita bilang, “Ga habis ya?” Saya jawab “Iya pak, banyak banget porsinya.” Bapaknya ngomong “Gapapa, memang porsinya porsi US. Rata – rata orang Indonesia ga bisa habisin.”

Suasana makan di sini sangat cozy, lampu temaram, terus ga terlalu crowded. Nyaman banget. Suami ternyata doyan makan di sini, udah berkali – kali ajak makan sini lagi. πŸ™‚

Sampai ketemu lagi di review makan – makan selanjutnya.

Main ATV di Bali

Selalu ada yang pertama untuk semua hal. Main ATV di Bali.

Berawal dari pergi ke Bali secara mendadak di bulan Agustus yang lalu, maka saya dan suami belum punya rencana mau ngapain di Bali (selain makan – makan, tentu saja).

Setibanya di Bali, pada Sabtu pagi, kami langsung makan nasi ayam Ibu Oki di daerah Nusa Dua. Our favo!!! Untung ya di Jakarta, ga ada itu nasi ayam Ibu Oki, kalo ada bisa cape saya mesti lari banyak – banyak di treadmill. hehe…..

Sambil ngunyah, kami berdua diskusi mau ngapain yaaa, sambil scrolling instagram, atau google hal yang harus dilakukan di Bali. Lalu, saya kepikir dan nanya dengan penuh semangat 45 ke suami,

“Mau main motorcross gakkkk?????” sambil kasih lihat akun IG untuk sewa motorcross.

Namun, suami masih ragu, karena beliau ga begitu yakin saya ga bakal ugal – ugalan pas naik motorcross.

Jadi, suami kasih pilihan lain, mau ga main ATV aja? Terus, saya mengiyakan aja, meskipun ga kebayang, gimana cara mengendarainya. Mariii. Langsunglah kita telp orangnya (hasil browsing di internet), janjian, transfer, langsung cus OTW ke tempatnya. Yap, sepercaya itu πŸ˜€

Apa saja yang dibutuhkan untuk naik ATV? Nyali, dan baju yang nyaman aja menurut saya sih. Karena, sepatu boots akan disediakan dari tempat penyewaan ATV. Oh ya, jangan lupa pake sun block. Kalo kamu kelupaan bawa, ga usah khawatir, di tempat sewa ATV ada sun block lotion dengan berbagai merk yang bisa kita pake.

Fotonya terbatas, karena tentu saja tidak baik naik ATV sambil maen hp. Daripada keguling kan ya. hahaha….

Masuk goa
Di dalem goa

Jadi, beberapa foto diambil ketika kami lagi berhenti sambil nunggu giliran turun atau naik ke tebing yang cukup curam, atau ke tanjakan sempit.

Atau, (nunggu yang nyebelin), bocah – bocah Aussie yang sotoy, bawa ATV ugal – ugalan sampe bikin rantai ATV yang mereka kendarai putus, atau motor mereka jumpalit lah. Sukurin. Sorry not sorry.

Durasi main ATV sekitar satu jam, kita lewatin pematang sawah, lewatin perkampungan penduduk, masuk ke gua dengan air terjun, naik turun tanjakan curam dan berliku. Super happy.

Terima kasih kepada suami yang sudah ajak main ATV πŸ™‚ Next nya belio janji ngajak main motorcross.

Meet Up

Salah satu kesenangan bermain di dunia maya adalah, kita bisa kenalan dengan orang baru yang syukur – syukur kalo cocok bisa jadi temen πŸ™‚

So, waktu pergi ke LA, kami ketemu dengan Christa dan family! Kebetulan ada adiknya Christa juga lagi visit ke US, jadi kami makan malem bareng di Thai Restaurant. I’m so happy, karena udah rindu masakan Asia beneran (yang berminyak berkuah dan pedes).

Sebelum berangkat ke US, Christa juga udah banyak bantu kasih tau beberapa informasi yang berguna buat saya. Misalnya, jarak Disneyland yang cukup jauh dari tempat kami tinggal, snack paling enak di Disneyland, kalo ke Universal Studio langsung antri untuk ikut Universal Studio Tour, dan ada beberapa lainnya… Dengan dapet informasi tambahan tersebut, membuat kami merevisi itinerary pergi ke Disneyland dulu baru besoknya ke Universal Studio, jadi bisa main dengan tenang, santai dan aman di dua tempat itu.

Makanan enak, ngobrol santai, ga terasa waktu habis, seru banget ya kita cerita – cerita, mulai dari roadtrip, sampe dengan jastip! πŸ˜€

Tak lupa cerita soal music country yang makin lama, makin enak didengerin hehe..

Thank you so much Christa udah bersedia digangguin melalui chat – chat :* dan udah nyamperin kami dari Orange County!

Semoga semakin lancar dan bahagia tinggal di sana ya Chiii. See you again!

Kuliner di Bintan

Rasanya, berbicara soal kuliner atau makanan sama dengan berbicara mengenai kebahagiaan dan kesenangan. Begitu bukan? πŸ˜€

Jadi, sekarang saya mau berbagi cerita tentang makanan yang kami makan selama main – main di sekitar Bintan dan Tanjung Pinang.

Just for your information. Menurut saya, harga makanan di Bintan khususnya seafood ga murah juga. Awalnya saya pikir, karena banyak pantai, jadi harga seafood lebih murah, ternyata harganya sama dengan di Jakarta πŸ˜€ Bahkan ada beberapa yang lebih mahal. Tapi, untuk rasanya lebih enak dibanding yang di Jakarta. Yeayy

Ikan kerapu. Favorit suami.
Kangkung, di mana pun restaurant seafood berada. Di situ ada kangkung. Ini harganya 70.000 seporsi ngekekkk
Kepiting telor asin
Ikan asam pedas. Rasanya lebih pedas dibandingkan asam pedas RM Padang. Sukaaa.
Udang goreng gandum
Kalo ga salah, namanya kerang bulu. Cuma yang saya suka, jenis sausnya yang enak bangettttt. se enak itu. Minyak wijen, bawang putih, cabe rawit, sedikit kecap asin, dan kecap manis. Nulis ini sambil ngiler sendiri πŸ˜€
Kepiting lada hitam
Kalo ke Bintan, wajib cobain GONGGONG. Atau siput laut, cara makannya, daging mereka yang keluar sedikit, kita tusuk pake tusuk gigi, dan tarik. Rasanya kenyal lembut, dicocol ke saus seafood. Sepiring abis sendiri, kalo ga inget kolesterol sih πŸ˜€
Tiny durian
Ini versi tiny durian yang sudah dibuka. Beli di pinggir jalan, ketika dari Tanjung Pinang menuju Bintan. Rasanya manis, tidak terlalu bau durian. Legit.
Otak – Otak Ala Bintan. Adonan otak – otaknya, sudah ditambah bumbu kelapa, dan juga cabai. Jadi pedas rasa di dalamnya, makannya jadi simple karena ga butuh cocol ke bumbu. Terus, di bakar di daun kelapa yang keras. Apa sii namanya yaa, pernah dikasih tau, tapi lupa :/

Saran saya, untuk temen – temen yang akan ke Bintan, makanan yang wajib dicobain itu otak – otak, tiny durian (kalo suka), dan gonggong.

Atau temen – temen di sini ada yang sudah pernah ke Bintan? Ceritain pengalaman kuliner kalian di sana dong πŸ™‚