Review Passpod dan JavaMifi

Postingan ini tidak berbayar, murni pengalaman pribadi saya sebagai pengguna.

Untuk memudahkan komunikasi dan update di sosial media, ketika jalan keluar negeri, saya pasti sewa wifi dari Indonesia. Karena menurut hemat saya, membawa wifi dari Indonesia lebih mudah dan praktis, ga perlu ganti kartu, registrasi, pilih menu ini itu. Pakai wifi dari Indonesia cuma tinggal nyalain modem, masukin password. Done! Bisa langsung eksis 🤣🤣

Ini keunggulan dari Javamifi

+ Proses pemesanan dan verifikasi pembayaran sangat cepat.

+ Satu set perangkat terdiri dari modem, charger modem, dan juga universal travel adaptor. Ini sangat memudahkan terutama kalo negara yang kita kunjungi menggunakan steker (colokan listrik) yang berbeda dari Indonesia

+ Kecepatan internet cukup bagus dan cepat, baru mulai lambat ketika malam hari (pastinya karena saya udah banyak update IG Story pastiii :))

Hal yang bisa diimprove dari JavaMifi

– Meskipun mereka katakan di website kalo pengembalian bisa dilakukan di xxmart, tapi ternyata tidak. Saya pernah samperin ke lebih dari 3 xxmart untuk balikin modem tersebut, tapi semua xxmart ga ada yang tau kodenya meskipun saya udah kasih lihat code dan juga emailnya 😦

– Waktu janjian pengembalian perangkat ga jelas. Pernah saya dihubungi kalo mereka mau ambil ke rumah di Depok (weekend), namun hingga sore tiba tak kunjung ada kurir yang ambil. Lalu, saya hubungi CS dan mereka baru bilang kalo modem akan diambil besok aja di kantor saya.

Ini keunggulan dari Passpod

+ Banyak promo yang mana biasanya harga lebih murah

+ Pengantaran perangkat cukup cepat dan kurirnya “pinter”, di tengah kesibukan saat ini kita butuh banget punya kurir yang pinter kan

+ CS Responsif

+ Saya kenal sama seseorang yang jadi boss di sana (🤣) jadi kalo apa-apa tinggal mengadu. Tapi tetep ini bukan postingan berbayar ga perlu khawatir 😂

+ Baterai tahan lama, bisa satu setengah hari!

+ Proses pemesanan mudah dan verifikasi pembayaran cepat

Hal yang bisa diimprove dari dari Passpod

– Mohon sertakan universal travel adaptor 🙏🏻

– Kecepatan internet agak lambat, tapiii mungkin karena kemaren saya pake yang promo kali ya. Jadi kuota internet tidak sebesar biasanya

– Saya harus menghubungi CS untuk bertanya, kapan modemnya diambil. Harusnya CS yang menghubungi saya bertanya mengenai hal jni, karena tanggal penggunaan sampai kapan sudah cukup jelas

Ok then, sekian dulu review nya. Silakan dipilih mana yang sesuai untuk teman-teman ya 😄

Iklan

New Zealand Update

Hai Hai,

Kembali lagi bersama cerita petualangan kami di New Zealand.

Kami sempat menginap di satu kota kecil yang bernama Twizel. Twizel merupakan kota yang sangat tenang (sepi), dan langitnya sangat indah di malam hari. Membuat saya sang pecinta milkyway terkagum – kagum. Agak menyesal karena ga punya kemampuan untuk foto bintang yang keren itu pake kamera yang kami bawa. Kameranya juga bukan kamera canggih, plus ga bawa tripod. Harap maklum, foto – foto bukan tujuan utama kami pas liburan, eh atau mungkin belum? haha….

Sehabis makan malem, saya ga niat kemana-mana, jadi nonton tv santai aja di kasur, terus suami iseng keluar kamar karena ada suara berisik. Pas balik kamar, dia bilang banyak turis dari China bawa kamera dengan tele panjang, lalu dia lihat ke langit bintangnya bagus banget.

Dengan berat hati, saya pake baju hangat, pake boots, pake jaket dan keluar kamar, karena udaranya cuma single digit malam itu. Keluar kamar, saya langsung lihat ke langit. Super woooowwwwwwww. Saya sampe chat Ci Inly malam itu, haha…. Lalu, kami jalan ke luar area hotel, foto – foto di kegelapan (entah apa yang difoto).

Rombongan turis China sampe nyebrang jalan menuju ke tempat gelap yang ga keliatan ujungnya (super gelap) karena memang lampu jalanan juga minim. Terus ya, saya liat bulan, saya bilang ke suami.

“Gila itu bulan deket banget”
Suami jawab “Mana bulan? Itu lampu!”
“Itu bulan!!!”
“Masa sih?”

Pas kita perhatiin iya bener bulan! Gede dan terasa deket, kaya lampu taman hihihi. Super norak!!!

Seolah – olah kita bisa samperin itu bulan, saking terasa deketnya.

Di bawah ini foto saya bersama bulan dengan settingan kamera mirrorless otomatis (alias ga kita keren2in karena males belajar :D) Bulan yang menyerupai lampu taman.

DSC_3584DSC_3585DSC_3595

Yes, segelap itu, sampe saya ketakutan (anaknya emang cemen) ga berani jauh dari suami. Terus saya bayangin turis China itu pasti dapet foto yang keren banget dengan milkyway dan bulan yang superb (mereka nyebrang ke arah bulan)!

Kalo kalian berkesempatan berkunjung ke South Island-nya New Zealand, coba masukin Twizel ke dalam itinerary, semalem aja 😀 Hope you love it as I do.

Kannnn jadi kangen Twizel!

Yang dirindukan ketika liburan di Eropa

Pas perjalanan ke Eropa kemaren menurut saya di saat itulah saya kangen banget sama makanan Indonesia. Waktu ke Amrik ga terlalu rindu, soalnya makan malem masih suka cari Asian Food, entah itu Korean, Chinese atau Thai food. Tapi pas ke Eropa kemaren beneran tersiksa. Well, (penggunaan kata tersiksa sungguh lebay) karena sebenernya saya beberapa kali makan Indonesian food!

Selama di Eropa pun sebenernya terbatas juga saya makan makanan khas negeri yang lagi saya kunjungin. Paling coba Beef Turinger aja di Erfurt, Jerman atau udah pasti makan pizza dan pasta di Italy. Sisanya, makan kebab atau roti – rotian atau buah – buahan. Jiwa petualang kuliner saya pengen makan yang beda sebetulnya, namun karena takut dagingnya mengandung babi jadi kami sebisa mungkin cari yang aman.

Oh ya, berhubung saya penggila pasta dan lidah ini sangat akrab dengan pizza, maka makanan di Italy menjadi pelipur lara selama perjalanan di Eropa. Selain Italy, Belanda juga pelipur lara karena banyak restaurant Indonesia 🙂

Ketika nginep di Ibis Berlin, kami bahagia bukan kepalang karena ada kios chinese food di deket hotel. Hari pertama kami pesen mie goreng bebek, hari kedua pesen nasi goreng ayam. Pastinya, tidak lupa saya bawa sambel bu rudy untuk memanjakan lidah saya yang pedas ini :p

Di Berlin pun, kami makan Indonesian food dengan porsi super besaaaarrr, makan di restaurant itu bareng temennya suami saya. Makanannya cukup otentik, enak. Suami bahagia karena dia pesen teh botol.

Selain makanan, saya rindu kamar dan rumah di Indonesia. Udah itu aja, sisanya ga rindu 😀

DSC_0997
Deretan Pastry Enak di salah satu kios di Paris

Have a good thursday 🙂

 

The Hobbit’s Journey

What can I say besides grateful that I could finally visit one of my bucket list country, New Zealand?

This post will be specific talk about one of my journey in New Zealand. Experience the real Middle-earth™ at the Hobbiton™ Movie Set

Here is from their official web :

Fall in love with the Alexander family sheep farm, just as acclaimed director Sir Peter Jackson did, as you journey through the unequivocal beauty of the land, with the mighty Kaimai Ranges towering in the distance. Your guide will then escort you around the set, showing the intricate detailing, pointing out the most famous locations and explaining how the movie magic was made.

You will be fully guided around the 12-acre set; past Hobbit Holes™, the Mill and into the world-famous Green Dragon™ Inn, where you will be presented with a complimentary, exclusive Hobbit™ Southfarthing™ beverage to conclude your own Middle-earth™ adventure.

We depart from MataMata I-Site. The I-site easy to find, we park our car and re-registration. We booked the ticket in Jakarta, just in case.

DSC_3004.JPG
MataMata I-Site

DSC_3005.JPG

I believe most of you, have watched The Lord of The Rings movie many times. And the movie set as good as its look on the movie. OMG.

DSC_3011DSC_3020DSC_3021

The weather was perfect. The blue sky, a green green grass, hobbit hole.

DSC_3101.JPG
The sunshine so bright

We take approximately 2 hours to enjoy the site. The tour guide really nice, he waits patiently while the group tour taking a (lot of) picture. He thanks us because bring the sun along 😀

What a lovely cloud. My love!
They are really taking care of this site.

Luke, the tour guide explain us about the history of this site as well as the untold story behind the filmmaking.
We enjoyed a ginger beer right after the tour

Visit Hobbiton Movie Set A very great memory to us 🙂

Europe Trip – My Dream Come True

Mengingat sekarang banyaknya foto bertebaran teman – teman saya lagi di Eropa (entah mengapa) saya mau share sedikit tentang Europe Trip.

Alkisah saya liat gambar Keukenhof di salah satu majalah, saya mengagumi bunga – bunga bertebaran di majalah tersebut. Dalam hati saya bilang, Someday, I will be there!

Jadi, salah satu tujuan kami ke Eropa ya mau kunjungin Keukenhof. Ya walaupun pas kesana Keukenhof baru buka 3 hari, saya seneng bukan main. Meskipun, saya tau kalo banyak bunga yang belum mekar sempurna. Tapi itu tidak menyurutkan niat dan juga kebahagiaan saya. Tiket Keukenhof sudah di beli. (Thanks buat Mba Deny yg udah aku tanya mengenai ini). Mendarat di bandara Schipol dengan selamat, titip bagasi di locker. Tujuan utama kami yaituuuuu langsung meluncur ke Keukenhof.

Pas di Belanda, meskipun suhunya dingin untuk orang tropis macam kami ini tapi karena ada matahari yang terik jadi sangat nyaman buat jalan-jalan. Super love suhu Belanda pada waktu itu.

Keluar bandara langsung antri bus untuk ke Keukenhof. Super yeayyyy, ngeliat kincir angin. OMG norak, bodo amat!!! ngeliat hamparan hijau yang tenang, langit biru, burung – burung liar, cuaca pas, jalanan lancar, tertib, aahhh ada perasaan cinta di hati ini….

Kami baru turun pesawat 2 jam yang lalu, tapi hati happy 🙂

Setelah perjalanan sekitar satu jam, nyampe juga. Meskipun baru buka 3 hari, tapi Keukenhof ternyata sudah ramai!

Keukenhof, just like what I’ve imagined of.

Pintu masuk. Look at that lovely sky. No edit.

Belom semua bunga mekar sempurna. But, I’m happy (still)

 

Tapi, saya merasa unik juga si pohon – pohon kering dan bunga yang belum mekar sempurna, jadi ada warna tersendiri menurut saya 🙂

Kalo disuruh balik lagi ke Keukenhof. Mauuuu!!!!

Liat taman bunga di belahan Belanda lainnya juga mau 🙂

Duh, rindu 🙂

Cocok ga aku jadi tukang bunga

 

Top Of Europe – Jungfraujoch Swiss

Ga pernah terpikir sebelumnya bisa naik gunung di Eropa. Walaupun naik gunungnya cuma tinggal duduk manis di kereta :D. Super banget deh emang masalah transportasi di Eropa!

Jadi, hampir setahun yang lalu kami jalan – jalan ke Swiss (woww, time flies). Kami emang niat cari tempat yang suasana kampung dan desa (maap kita anak kota :D). Kami dalam arti suami ya. Dia kekeuh banget mau ke Interlaken-lah, Wilderswil-lah, dsb. Apa siih ada apa di situ. Istri kesel suami banyak maunya hihi.. Akhirnya saya google bisa ngapain aja di sana, ternyata kita bisa ke Top of Europe alias Jungfraujoch.

Perjalanan ke Jungfraujoch sebenernya cepet, tapi karena itu kereta mendaki naik – naik ke puncak gunung, tinggi – tinggi sekali. Kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemaraa aaa… Nyanyi ciee. Jadi kereta jalannya pelan. Biar pelan asal selamat.

 

DSC_0682
Siap – siap ke ketinggian 3454m 🙂
DSC_0684
Dapet semacam “passport” yang dikasih setelah kita transaksi di stasiun kereta
DSC_0685
Ini pas sampai di stasiun Jungrfau, Stasiun ini di dalam gunung.

 

Hati – hati bagi temen – temen yang mau ke sini, mesti cek kondisi cuaca (walaupun belom tentu bener juga). Karena saya lihat di apps cuaca kondisinya di atas ada matahari, yang mana harapan saya untuk foto dengan latar gunung tertutup es. Namun, kenyataan berkata lain. Sampe atas itu malahan badai salju zzzz… Udah ditunggu sejam juga ga berenti itu badai. Jadi, dapetnya cuma ini doang

 

DSC_0690
Suhunya minus 13 derajat, yang putih berterbangan di depan saya itu salju, bukan ketombe.

 

Liat foto saya di atas? harusnya dari posisi itu, di belakang saya bisa keliatan gunung keren macam foto di bawah ini

 

Sumber

 

Kebayang kaannn, betapa apa yang terjadi – terjadilah, tanpa kita bisa berbuat apa – apa. Kalo saya ditanya apa saya sedih? Ga sedih, cuma greget sama sedikit jengkel aja. Sedikit ko beneran deh, karena saya niat balik lagi (yang entah kapan). Haha. Bucketlist tambahan.

Oh ya, pas sampai di atas sini suami saya sempet kena hipoksia. Right after kita turun dari kereta. Saya pikir, ini kamu lebay apa mas? Ternyata my mochi beneran sesek. Saya tawarin mau beli oksigen ga tapi kayanya dia bisa sehat cuma perlu istirahat sebentar dan minum anget alias kopi. Akhirnya sembuh 😀 Puji Tuhan. Bukti doi sembuh adalah foto di bawah ini. Tuh liat dia lompat 🙂

 

DSC_0695
Nanti kita balik ke sini lagi ya, sayang. :p

 

Oh ya, kalo mungkin aja nih ada yang penasaran kenapa kita ga langsung naik lagi keesokan harinya, karena harga tiket untuk 1 orang itu 2,5 juta 😀 Yaa, nabung dulu untuk 3 tahun lagi mungkin baru bisa balik lagi hihi.

OMG, nulis ini aja kangen Swiss. Nanti kalo ga males, saya akan tulis kenapa saya kangen sama Swiss.

Auf Wiedersehen

 

Kebanyakan Klenik

Emang ya, orang Indonesia itu hobi banget menghubungkan sesuatu ke hal horor atau mistis. So, tulisan ini sebenernya mau bahas soal Hotel Tugu Malang yang saya inepin selama di Malang akhir tahun 2017 lalu.

Sebelum saya nginep di sini, suami saya dan temen kantornya ada kerjaan di Malang dan mereka nginep sini. Mereka ga sekamar, tapi temennya suami itu ngerasa ketemu kejadian aneh. Misal, merasa ada yang liatin dia dari kamar mandi, ada rambut bule di kamar mandinya. (Kenapa selalu di kamar mandi? Mbuuh). Suami saya tetep ga nemuin atau ngerasain hal aneh selama stay di situ, malahan dia ngerasa nyaman dan seneng sama hotelnya lalu berniat ngajak saya nginep di situ.

Awal, saya (yang cemen ini, iya gara – gara kebanyakan ditakutin soal hantu siih dari kecil) takut setengah mati dan bersumpah ga akan nginep di situ kalo ke Malang. Namun, apa daya hotel yang kita mau udah fullbooked di Malang dan hotel Tugu masih kosong. Ya udah, saya pasrah nginep di situ.

Jauh sebelum perjalanan ke Malang saya udah baca – baca soal hotel tersebut lewat INTERNET. Ya, seribu satu macam cerita lah ya di internet yang bikin saya deg – degan. Sebelum akhirnya confirm, suami sempet tanya emang beneran saya berani untuk nginpe situ. Saya bilang, ya berani dong asal sama kamu terus. hahaha… Sebenernya saya berani karena saya pernah nginep di banyak hotel yang cukup ajaib dan ALHAMDULILLAH ga ada kejadian aneh – aneh. Puji Tuhan.

Ternyata setelah saya nginep.

Hotelnya menyenangkan, pelayanannya jempolan, makanannya enak, banyak spot buat foto – fotoan, banyak sejarah yang bisa dipelajari, banyak barang antik dan unik. Seru banget. Lalu, mengenai lukisan perempuan bergaun putih berambut panjang, percayalah lukisan aslinya itu tidak seseram seperti yang ada di foto. Cantik dan tidak menakutkan sama sekali.

So, kali kalian ke Malang sempatin waktu buat ke sini, meskipun hanya makan di restaurant nya saja.

Sekian dulu ceritanya ya 🙂

P.S: Emang sengaja ga pake foto. Belom pindahin ke laptop hahaha….

Hal Paling Nyebelin Saat Traveling

Mendapat ide dari Mba Eva soal hal paling nyebelin saat traveling. Ini daftarnya menurut saya

  1. Makanan ga sesuai selera. Waktu ke Eropa, saya udah pasrah untuk lebih sering ketemu roti atau pasta. Terus, waktu di Jerman kita dipesenin makan sama temen, kol dingin dan daging. Ga doyan 😀 Pastanya juga, ga doyan. Haha
  2. Mesti bangun pagi. Beberapa waktu pas lagi travelling, ada saatnya saya harus bangun pagi di kota tersebut. Misal demi ke museum biar ga terlalu rame atau mesti ke suatu tempat yang agak jauh jadi mesti berangkat pagi, dsb.
  3. Toilet kering. Di Eropa dan Amrik hampir sebagian besar toiletnya kering. Saya tersiksaaaa hihi… Bawa tisu basah deh banyak – banyak. Toilet Jepang dan Korea dong, surgaa 🙂
  4. Kaki sakit karena kebanyakan jalan. Ini saya sering banget ngalamin ini, kaki sakit karena kebanyakan jalan kaki. Tiap malem pake koyo di kaki, dan minyak gosok. Tapi, terus besoknya ga kapok. Gitu lagi 😀
  5. Udara yang terlalu dingin karena bikin kuping sakit. Terus males setiap mau keluar hotel harus pake baju berlapis – lapis dulu. Makanya begitu mau balik ke hotel, udah dipastikan perut kenyang (perut melulu urusannya hahaha) dan semua barang yang dibutuhkan udah dibeli di supermarket.
  6. Ketemu orang lokal yang nyeremin atau nyebelin. Waktu di Italy, saya ke money changer mau tuker uang Swiss Franc ke Euro. Mba kasir yang pertama masih baik, terus saya (bodohnya) ga langsung nuker saat itu, karena mau jalan – jalan dulu. Pas besoknya balik lagi orangnya ganti, saya tanya baik – baik terus dia marah – marah ga jelas kenapa, terus ngomongnya pake bahasa italy. Kesel banget udah bilang saya ga bisa bahasa Italy dia masih nyerocos. Kita tinggal pergi aja dan ga jadi tuker duit.
  7. Kalo yang ini bukan pas saat traveling sih, tapi setelah traveling. Bebersih rumah setelah traveling itu lelah. Kalo baju pulang traveling biasa laundry semua. Tapi bebersih rumah saya dan suami yang bersihin rumah. Setelah itu pijit. Amboooooiii nikmatnya.

Kalo temen  – temen, biasanya hal paling nyebelin saat traveling itu apa?

 

SSL25867
Dari Singapore mau ke KL naik bus 🙂

 

 

Makanan di Jepang

Berdasarkan komen Mba Yoyen di blog saya yang waktu itu lagi galau. 😀 Ini saya share makanan di Jepang. FYI, makanan di Jepang itu enak – enak. Sukaaa banget. FYI aja nih ya, rasa masakan Jepang di Indonesia itu lebih gurih (mungkin karena kebanyakan pake MSG? :)), di Jepang lebih terasa light. But, I still love it.

Untuk yang tidak makan babi dan makan makanan yang mengandung alkohol memang cukup tricky, tapi tanya aja ke penjualnya. Mereka jujur ko, kalo makanan itu mengandung babi atau alkohol, pasti bilang.

So, check it out!

DSC_1971
Tempura + Nasi + Miso soup dan tahu. Sebenernya tempat makan ini jualnya Tempura Soba, tapi kita pilihnya malah nasi, karena takut kalo makan Soba ga bikin kenyang hahahah…. Pas makan di sini kita tnya ke yang punya, pake pork ga? Dia bilang, “Engga, semua seafood.” Makan ini di daerah Danau Kawaguchi.
DSC_1968
Itu, Gunung Fuji yang kelihatan dari tempat saya duduk 😀

 

Sushi di Jepang itu ga amis, beda sama di Sushi Tei deh. Ga bisa dibandingin. hahahaha… Kangen.

 

Siap – siapin perut buat cemilan yang enak – enak di Jepang. Ini mochi yang isinya custard (ada pilhan isi red bean atau matcha) dengan topping strawberry. Asli enak banget. Manisnya pas. Gila, nagih.

DSC_2111
Dibakar gini doang, enak banget.
DSC_2145
Spicy miso ramen, maap deh ya kalo gelap. 😀

 

Cobain jajan nasi bento untuk kami makan di Shinkansen, mungkin salah pilih 😦 rasanya biasa aja. Atau bisa jadi ekspektasi saya yang ketinggian 😀

 

 

Tempura dan rumput laut. Saya baru pertama kali makan rumput laut yang model begitu. Si buletan kecil pecah di mulut, rasanya asin. Tapi enak 🙂 Tempura udang dan juga tulang ayam lunak. Ide bagus tuh, tulang ayam lunak dijadiin tempura!

DSC_2384
Fluffy Takoyaki. Yum yum.
DSC_2422
Tiram bakar, pake perasan lemon. Seger!

 

Ayam bakar tusuk sate ini sebenernya, rasanya gurih dan sedikit manis.

DSC_2500
Dorayaki isi custard atau kacang merah. Saya suka, suami juga suka, tapi dia bilang “Mirip martabak rasa adonannya.” zzzzz
DSC_2502
Yang tidak bisa saya cobain 😦 karena pake bacon pas masak. huhu…
DSC_2503
Pake bacon juga ini, bisa dilihat di toppingnya.
DSC_2504
Karena penasaran, kami belilah ayam goreng ini. Taunya, rasanya kaya ayam goreng. hahaha
DSC_2588
Salah satu makanan yang sering kami makan di sana. Beef bowl 🙂 Kadang campur ikan, kadan beef bowl nya doang.

 

 

Selain itu semua, saya juga beberapa kali makan steak. Menurut saya, Ikinari steak ini sangat worth it. Harga steak dihitung per gram, dengan harga yang sedikit lebih murah dari Holy*ow steak tapi dengan kualitas sangat – sangat jauh lebih baik. 🙂

Tempat makannya seperti di bawah ini. Kalo saya makan, pasti cari yang duduk hehe

 

source

 

 

source

 

Kenapa ga ada foto steak versi saya sendiri, ga kepikir foto steak haha… Kalo ada yang pernah liat instastory saya, saya satu kali pernah update di instastory. Selain itu, langsung makan. Nyam Nyam….

Biaya makan di Jepang sebenernya relatif mirip sama kita makan di mall di Jakarta. Sekitar Rp 50.000 – 70.000, kalo steak 120.000 – 150.000.

Tapi, yang bikin agak bengkak itu jajannya sebenernya. Mochi sekitar 30ribuan, tiram sekitar 50ribuan. 😀

Saya yang pada dasarnya doyan makanan Jepang, sampe ga mau makan masakan Jepang di Indonesia dari dua minggu sebelum berangkat. Hahahah.. Norak? Biarin, weeeeek :p

Kalo kamu, makanan Jepang kesukaannya apa?

 

Flowers

Mendapat ide dari Mba Nela untuk posting soal bunga – bungaan, secara ybs kan rajin banget gardening. Ini saya share beberapa foto bunga yang saya punya. Sebenernya, saya pecinta bunga juga 😀 Namun, malas untuk berkebun. Hihihi… Selamat menikmati

Saya tulis beberapa caption untuk cerita asal foto tersebut ya.

DSC_0124
Waktu ke Belanda kemaren, banyak bunga Tulip yang belum mekar. Tandanya mesti balik lagi 😀
DSC_0127
Cocok jadi tukang bunga ga? 😀
DSC_0417
Foto diambil di Mirabel Garden, Salzburg.

DSC_0665

DSC_0915

SSL25901
Pertama kali liat Tulip, waktu di Garden by The Bay. Dalam hati bilang semoga someday bisa liat tulip beneran di Belanda. And I did it 🙂
SSL25909
Bunganya kaya bohongan, tapi ini asli ko 😀

Di bawah ini deretan bunga anggrek dari Garden by The Bay juga kurang lebih setahun lalu.