Kuliner di Bintan

Rasanya, berbicara soal kuliner atau makanan sama dengan berbicara mengenai kebahagiaan dan kesenangan. Begitu bukan? πŸ˜€

Jadi, sekarang saya mau berbagi cerita tentang makanan yang kami makan selama main – main di sekitar Bintan dan Tanjung Pinang.

Just for your information. Menurut saya, harga makanan di Bintan khususnya seafood ga murah juga. Awalnya saya pikir, karena banyak pantai, jadi harga seafood lebih murah, ternyata harganya sama dengan di Jakarta πŸ˜€ Bahkan ada beberapa yang lebih mahal. Tapi, untuk rasanya lebih enak dibanding yang di Jakarta. Yeayy

Ikan kerapu. Favorit suami.
Kangkung, di mana pun restaurant seafood berada. Di situ ada kangkung. Ini harganya 70.000 seporsi ngekekkk
Kepiting telor asin
Ikan asam pedas. Rasanya lebih pedas dibandingkan asam pedas RM Padang. Sukaaa.
Udang goreng gandum
Kalo ga salah, namanya kerang bulu. Cuma yang saya suka, jenis sausnya yang enak bangettttt. se enak itu. Minyak wijen, bawang putih, cabe rawit, sedikit kecap asin, dan kecap manis. Nulis ini sambil ngiler sendiri πŸ˜€
Kepiting lada hitam
Kalo ke Bintan, wajib cobain GONGGONG. Atau siput laut, cara makannya, daging mereka yang keluar sedikit, kita tusuk pake tusuk gigi, dan tarik. Rasanya kenyal lembut, dicocol ke saus seafood. Sepiring abis sendiri, kalo ga inget kolesterol sih πŸ˜€
Tiny durian
Ini versi tiny durian yang sudah dibuka. Beli di pinggir jalan, ketika dari Tanjung Pinang menuju Bintan. Rasanya manis, tidak terlalu bau durian. Legit.
Otak – Otak Ala Bintan. Adonan otak – otaknya, sudah ditambah bumbu kelapa, dan juga cabai. Jadi pedas rasa di dalamnya, makannya jadi simple karena ga butuh cocol ke bumbu. Terus, di bakar di daun kelapa yang keras. Apa sii namanya yaa, pernah dikasih tau, tapi lupa :/

Saran saya, untuk temen – temen yang akan ke Bintan, makanan yang wajib dicobain itu otak – otak, tiny durian (kalo suka), dan gonggong.

Atau temen – temen di sini ada yang sudah pernah ke Bintan? Ceritain pengalaman kuliner kalian di sana dong πŸ™‚

Lower Antalope Canyon – US Trip

Rejeki saya bisa ke Antalope Canyon, karena jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat kami menginap di kota Page, Arizona. Awalnya, Antalope Canyon tidak ada dalam itinerary kami, kalo pun ada bisa dibilang hanya cadangan. Tapi, sungguh pengalaman yang sangat luar biasa, pada akhirnya bisa ke sini

Wajib pake tour!

Harap dicatat ya, memasuki area Antalope Canyon wajib pake tour yang sudah tersedia di pintu masuk Canyon. Saran saya, untuk temen – temen yang mau berkunjung ke sini, sebaiknya sudah booked sebelumnya melalui internet. Karena, bisa saja kita tidak ada kuota tersisa untuk kunjungan hari tersebut karena semua sudah habis di booked, padahal sudah jauh – jauh ke sini. Kan sedih jadinya 😦

Karena kesotoyan kami dan sungguh cerdas tidak google dulu, kami pikir masuk Antalope Canyon itu gampang (ga perlu pake tour, dsb). Seandainya bayar pun, hanya tinggal bayar, lalu tinggal keliling – keliling sendiri. Ternyata tidak seperti itu πŸ˜€ Untuk masuk ke dalamnya, kita wajib didampingi pemandu wisata dari suku Navajo. Kalo dilihat sekilas, menurut saya, suku Navajo agak mirip orang Indonesia πŸ˜€

Biaya masuknya sekitar 50USD/orang

Apa sih sebenernya Antalope Canyon?

Jadi, Antalope Canyon terbentuk karena adanya kejadian yang membuat batuan terkikis oleh air, angin dan pasir. Lalu, kalo sedang musim hujan, bisa saja di dalam kompleks Canyon itu banjir, sehingga tour pasti dibatalkan. Penting banget untuk cek cuaca kalo mau ke sini, seringnya ramalan cuaca di luar negeri itu (menurut saya) akurat. Entah kenapa ya, ramalan cuaca kalo di Jakarta, sering tidak akurat. Hmmm.

Di bawah ini penjelasan menurut google

Ngarai Antelope (bahasa InggrisAntelope Canyon) adalah sebuah ngarai terkenal yang berada di PageCoconino CountyArizonaAmerika Serikat. Daerah ngarai ini masuk ke dalam kompleks Navajo Indian Reservation, daerah penampungan terbesar untuk suku Indian DinΓ© dari Amerika Utara, yang juga disebut Navaho atau Navajo. Antelope Canyon terbentuk oleh erosi Batuan Pasir Navajo, terutama akibat banjir bandang dan kemudian karena proses sub-aerial. Air hujan, khususnya selama musim muson, mengalir ke cekungan memanjang di atas bagian ngarai celah, yang bertambah cepat dan memperbanyak pasir ketika tergerus ke jalur laluan sempit itu. Banjir terakhir terjadi pada tanggal 30 Oktober 2006 yang berlangsung selama 36 jam, dan menyebabkan Otoritas Taman Suku menutup Ngarai Antelope Bawah selama beberapa bulan.

Antalope Canyon

Biasanya satu pemandu, akan mengawal 1 rombongan sekitar 10 orang. Kita akan turun ke dalam perut bumi, turun tangga harus hati – hati, bahkan ada larangan kita ga boleh foto – foto pas turun tangga, karena memang securam itu.

Ini saya foto, pas udah mau pulang, keluar Canyon

Setelah sampai di dasar Canyon, ketemu deh sama pemandangan cantik seperti di bawah ini. Mesti pinter dan sabar menanti untuk dapat foto sepi, karena sesungguhnya canyon selalu ramai oleh wisatawan. Tenang aja, tour guide tau kok kalo tujuan kita ke sana itu foto – foto, jadi ga perlu khawatir πŸ˜€

Ketika kita sedang tour, kita hanya diperbolehkan bawa hp, kamera, dan botol air, kacamata dan selendang tentu saja boleh. No bag (bagaimana pun bentuknya), no selfie stick a.k.a tongsis, dan lain – lain. Karena, kita akan lewatin lorong – lorong sempit, dan juga naik turun. Jadi, supaya ga bikin ribet kali yaaaa.

Tour kurang lebih satu jam, ga terasa, tau – tau selesai. Yang bikin agak lama sebenernya pas giliran antri foto sih hehe..

Kamera suamiku jelek, bikin burem 🀣
Mencoba menangkap sinar matahari
Cantik
Punggung Tuan Eri πŸ˜‚
Semua cantik
Kaya di mana gitu
Mirip shark

Cantik ya, kalo ada waktu dan suka dengan kecantikan alam seperti ini silakan mampir ke Antalope Canyon ya.

20 Hari di Amerika

20 Hari di Amerika, ngapain aja?

Ya, seru pokoknya. Saya masih mengumpulkan niat untuk update perjalanan selama di sana. Tapi, kalo ditarik satu kesimpulan, puas banget, penuh suka cita.

Terima kasih sebesar – besarnya kepada suami yang menjadi penyusun rencana, sekaligus donatur terbesar dalam kesempatan kali ini. πŸ™‚ Alhamdulillah, impian saya ajak suami ke Amerika kesampean.

Pengennya sih, update tempat – tempat wisata yang kami kunjungi. Doakan saja supaya ada waktunya.

Di kasih hint melalui foto – foto beberapa tempat yang kami kunjungi ya.

Yosemite National Park
Antelope Canyon
Disneyland California
NYC at night
Apalah artinya jika ke NYC tapi tidak mampir ke patung liberty πŸ™‚
NYC di siang hari

Kami pun beberapa kali mengunjungi museum, main di Central Park New York.

Mohon do’a dan dukungannya supaya bisa rajin update soal Amerika πŸ™‚

Review Ramen Honolu

Hai teman-teman, kali ini saya mau review ramen halal, karena tempat ramen ini tidak menjual alkohol dan juga daging babi.

Namanya Ramen Honolu, lokasinya di Kemang, Jakarta Selatan. Silakan klik link di bawah ya untuk cek alamat lengkap beserta detail lainnya.

https://ramenhonolu.co.id

Here we go

Tokusei Toripaitan Ramen

Ramennya lembut, kaldu ayamnya terasa, telurnya perfect, bumbu charsiu meresap empuk sempurna. Kuahnya itu after taste nya ada rasa asem, semacam asem lemon tapi bukan lemon. (Btw, bukan asem karena ga fresh ya).

Spicy Karaage Ramen

Konon kabarnya karaage di sini itu terbaik, dan harus ku akui bahwa hal itu benar adanya!! Sejujurnya saya paling suka kalo karaage itu yang goreng garing, tapi nyatanya karaage dimasukin ke kuah ramen itu enak. πŸ˜†

Topping ayam di spicy karaage ramen itu ayam cincang, setelah diaduk, jadi sempurna. Oh ya, after taste kuah ini juga sama asem. Atau mungkin di belakang mereka langsung perasin lemon ya?

Tempatnya cozy dan homy. Pelayannya sigap, dan ramah. Mengerti product knowledge dengan baik.

Saran saya, datanglah ke sini setelah jam makan. Misal jam 2 siang, karena lebih mudah cari parkir, dan pastinya ga perlu nunggu waktu lama buat dipersilakan duduk.

Sekian dulu review nya. Silakan mencoba!

SEA Aquarium Singapore, Perlukah dikunjungi?

Jawabnya adalah perlu, jika kamu suka melihat ikan, suka melihat bintang laut, dan semua makhluk hidup di laut πŸ˜€

Apakah engkau akan menemukan kebahagiaan di sana? Jawabnya adalah iya, jika balik lagi jawaban di atas. Hahahaha….

Liburan awal tahun 2019, saya dan suami sempatkan jalan – jalan ke SEA Aquarium, karena agak bosan ke USS. Well, mungkin bosan bukan kata yang tepat, lebih tepatnya adalah saya malas bertemu keramaian yang luar biasa, malas antri terlalu lama untuk menikmati satu permainan. Pengennya liburan akhir tahun 2018 itu santai aja gitu, ga ngejar apa – apa. Syukurnya juga, kepadatan di SEA Aquarium Singapore masih sangat bisa ditolerir.

Display ikan – ikan lucu di SEA Aquarium Singapore, pretty much mirip sama SEAWorld Jakarta. Tapi, setelah saya pikir – pikir lagi, emang displaynya mesti gimana coba ya hehe… Kecuali mungkin nyelem beneran.

Daripada saya banyakan ngoceh ga puguh, (ga puguh itu ga jelas) langsung liat foto – foto aja yaaa.. (yang kebanyakan gelap karena di sana gelap)

Ikan di kapal karam
Daddy Shark, Grandma Shark, Family Shark, dudududu
awas tersengatttt!!!!

Cantiknyaa kalian semua
Jangan saus padang-in akuuuu

Banyak anak yang durhaka sama orang tua, di aquarium ini. Haha
Let’s touch Patrick!

Sekian

Aquaman mana niiih katanya mau dateng

Review Fika Swedish Cafe – Singapore

The famous “Swedish Meatball”

Liburan akhir tahun kemaren, kami sempet jalan – jalan ke Singapore. Lalu, iseng pengen cobain makan di Fika dan hasilnya tidak mengecewakan bahkan menggembirakan.

Review makanan:

Swedish Meatball (foto di atas) menurut saya, ini sangat – sangat lebih enak dibandingkan dengan swedish meatball dari ikea. Meatball nya empuk, sausnya creamy dengan kekentalan yang pas ditambah sauce lingonberry yang memperkaya rasa daging. Disajikan panas, fresh from the pan! Nilai 9/10.

Fishermans Pasta


Fishermans Pasta consist of linguine pasta, mussels, white fish, squid, and prawn. Served with a lemon-butter sauce, and topped with fresh rocket leaves and cherry tomatoes. My husband’s favorite. Entah kenapa he always loves food which has lemon inside πŸ™‚ Anyway, I love it too, nilai 9/10.

Order this drink, I forgot the name and coffee for hubby

The ambiance

Fika is located at 257 Beach Road near to Haji Lane area (the photogenic street on Singapore I guess)

Good thing for my Moslem friend, Fika is a halal restaurant! Jadi, bisa banget nih jadi pilihan kalo abis cape foto – foto di Haji Lane, mau Fika di sini πŸ˜€ Enjoy!

Sampe jumpa di review dengan foto seadanya.

bonus foto ahhahaahah

Tack!

2 Jam Mendaki demi Wae Rebo

Hi kawan, apa kabarnya? Semoga dalam keadaan baik.

Minggu lalu, saya dan suami pergi mengunjungi Flores, NTT. Salah satu highlight dari perjalanan itu adalah, mendaki gunung selama dua jam, untuk melihat desa Wae Rebo.

DESA Wae Rebo di Flores, NTT yang terletak pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut ini layaknya sebuah surga yang berada di atas awan.

Wae Rebo, I Love you

Wae Rebo is an old Manggaraian village, situated in pleasant, isolated mountain scenery. The village offers visitors a unique opportunity to see authentic Manggarai housing and to experience the everyday life of the local community. In the village of Wae Rebo, visitors can see mbaru niang – traditional, circular cone-shaped houses with very unique architecture. Nowadays, it is still a place to hold meetings, rituals and Sunday-morning prayers together. source: http://florestourism.com/districts/wae-rebo-village/

Sungguh penuh perjuangan untuk bisa mencapainya, terutama bagi mereka yang jarang olahraga. Saya tiba di sana setelah mendaki kurang lebih 9km selama dua jam, (agak congkak memang, sedangkan suami tertinggal 30 menit di belakang saya, hueheheheh).

Iya mendaki, karena memang selalu menanjak jalannya 😦 Udah gituuuu, ditambah dengan hujan, awalnya rintik – rintik imut, lalu lama kelamaan menjadi cukup deras. Sedihnya adalahhhhh, jas hujan saya titip di tas suami, mungkin ini balasan dari Tuhan kepada saya yang meninggalkan suami di belakang, wkwkwkwwk….

Saya dan rombongan yang di depan, selalu penasaran. Ini kapan sampenya siiih, perasaan kita kalo berenti cuma sekadar minum seteguk – dua teguk lalu lanjut jalan lagi. ahhahaahah… Pernah satu kali, kami ketemu orang yang turun gunung, si kakak itu bilang 15 menit lagi pasti sampe, tapi kenyataannya kami baru sampe 45 menit kemudian :/

Halo, kami siap mendaki.
Mohon maaf pria berkaos macan, istrimu meninggalkanmu πŸ˜€

Ingat, hutan hujan di Indonesia itu lembab jadi penuh dengan pacet atau lintah. Seumur hidup baru kemaren di Flores saya ketempelan pacet beberapa kali, hehehe.. Ga ada rasanya ternyata ketempel pacet, pas mereka diambil dari kaki saya juga ga ada rasa sakitnya, cuma geli aja gendut – gendut gitu.

Apakah semua terbayar setelah berjalan selama dua jam? Ya, terbayar. Alhamdulillah. Saya bersyukur pernah pergi ke Wae Rebo. Hal yang tidak akan saya sesali walaupun basah kuyup, kalo cape siihhh yaaahhh kecil lah (sombong to the max ahahahaah).

Baru mulai aja udah nanjak

Ngaso dulu sambil minum seteguk dua teguk

Ini beberapa barang yang harus kalian bawa kalo mau mendaki ke Wae Rebo

  1. Sepatu mendaki, mengingat kita akan melewati hutan yang cukup lembab dan licin, saya pake sendal jepit waktu itu. Untung ga kenapa – kenapa :/
  2. Jas hujan. Siap selalu jas hujan di tas kamu sendiri, jangan dititip di tas orang lain. Belajarlah dari pengalaman saya :p
  3. Tas anti air. Kalo punya, kalo ga punya coba beli deh di Tokopedia. Note: Ini bukan postingan berbayar. Wehehehe
  4. Air minum. Percayalah, kalian akan sangat membutuhkan ini! Tapi bawa secukupnya aja ya, kalo emang hausan banget, 1 liter cukup, tapi kalo emang ga terlalu haus, bawa aja 500ml.
  5. Topi. Supaya ga kepanasan
  6. Tembakau. Fungsinya untuk dioles ke seluruh bagian tubuh yang terbuka supaya ga ketempelan pacet/lintah.
  7. Tongkat. Sangatlah amat membantu dan berguna tongkat ini ketika kita mendaki.

Sedikit saran, untuk temen – temen yang baru pertama mendaki. Ketika istirahat, jangan langsung duduk, kalo mau nyender boleh, tapi jangan terlalu nyaman. :p maksudnyaaa nyender ke batu gunung. Lalu, jangan kelamaan berenti, supaya heart rate kalian ga turun drastis. Jadi, pas mulai mendaki lagi ga terlalu deg – degan seperti di awal. Ingat selalu untuk menghirup nafas yang panjang.

Sementara, ceritanya segitu dulu. Kalo saya sempet, saya ceritain lagi kehidupan di sana seperti apa ya.

Kiss and Love

Review Passpod dan JavaMifi

Postingan ini tidak berbayar, murni pengalaman pribadi saya sebagai pengguna.

Untuk memudahkan komunikasi dan update di sosial media, ketika jalan keluar negeri, saya pasti sewa wifi dari Indonesia. Karena menurut hemat saya, membawa wifi dari Indonesia lebih mudah dan praktis, ga perlu ganti kartu, registrasi, pilih menu ini itu. Pakai wifi dari Indonesia cuma tinggal nyalain modem, masukin password. Done! Bisa langsung eksis 🀣🀣

Ini keunggulan dari Javamifi

+ Proses pemesanan dan verifikasi pembayaran sangat cepat.

+ Satu set perangkat terdiri dari modem, charger modem, dan juga universal travel adaptor. Ini sangat memudahkan terutama kalo negara yang kita kunjungi menggunakan steker (colokan listrik) yang berbeda dari Indonesia

+ Kecepatan internet cukup bagus dan cepat, baru mulai lambat ketika malam hari (pastinya karena saya udah banyak update IG Story pastiii :))

Hal yang bisa diimprove dari JavaMifi

– Meskipun mereka katakan di website kalo pengembalian bisa dilakukan di xxmart, tapi ternyata tidak. Saya pernah samperin ke lebih dari 3 xxmart untuk balikin modem tersebut, tapi semua xxmart ga ada yang tau kodenya meskipun saya udah kasih lihat code dan juga emailnya 😦

– Waktu janjian pengembalian perangkat ga jelas. Pernah saya dihubungi kalo mereka mau ambil ke rumah di Depok (weekend), namun hingga sore tiba tak kunjung ada kurir yang ambil. Lalu, saya hubungi CS dan mereka baru bilang kalo modem akan diambil besok aja di kantor saya.

Ini keunggulan dari Passpod

+ Banyak promo yang mana biasanya harga lebih murah

+ Pengantaran perangkat cukup cepat dan kurirnya “pinter”, di tengah kesibukan saat ini kita butuh banget punya kurir yang pinter kan

+ CS Responsif

+ Saya kenal sama seseorang yang jadi boss di sana (🀣) jadi kalo apa-apa tinggal mengadu. Tapi tetep ini bukan postingan berbayar ga perlu khawatir πŸ˜‚

+ Baterai tahan lama, bisa satu setengah hari!

+ Proses pemesanan mudah dan verifikasi pembayaran cepat

Hal yang bisa diimprove dari dari Passpod

– Mohon sertakan universal travel adaptor πŸ™πŸ»

– Kecepatan internet agak lambat, tapiii mungkin karena kemaren saya pake yang promo kali ya. Jadi kuota internet tidak sebesar biasanya

– Saya harus menghubungi CS untuk bertanya, kapan modemnya diambil. Harusnya CS yang menghubungi saya bertanya mengenai hal jni, karena tanggal penggunaan sampai kapan sudah cukup jelas

Ok then, sekian dulu review nya. Silakan dipilih mana yang sesuai untuk teman-teman ya πŸ˜„

New Zealand Update

Hai Hai,

Kembali lagi bersama cerita petualangan kami di New Zealand.

Kami sempat menginap di satu kota kecil yang bernama Twizel. Twizel merupakan kota yang sangat tenang (sepi), dan langitnya sangat indah di malam hari. Membuat saya sang pecinta milkyway terkagum – kagum. Agak menyesal karena ga punya kemampuan untuk foto bintang yang keren itu pake kamera yang kami bawa. Kameranya juga bukan kamera canggih, plus ga bawa tripod. Harap maklum, foto – foto bukan tujuan utama kami pas liburan, eh atau mungkin belum? haha….

Sehabis makan malem, saya ga niat kemana-mana, jadi nonton tv santai aja di kasur, terus suami iseng keluar kamar karena ada suara berisik. Pas balik kamar, dia bilang banyak turis dari China bawa kamera dengan tele panjang, lalu dia lihat ke langit bintangnya bagus banget.

Dengan berat hati, saya pake baju hangat, pake boots, pake jaket dan keluar kamar, karena udaranya cuma single digit malam itu. Keluar kamar, saya langsung lihat ke langit. Super woooowwwwwwww. Saya sampe chat Ci Inly malam itu, haha…. Lalu, kami jalan ke luar area hotel, foto – foto di kegelapan (entah apa yang difoto).

Rombongan turis China sampe nyebrang jalan menuju ke tempat gelap yang ga keliatan ujungnya (super gelap) karena memang lampu jalanan juga minim. Terus ya, saya liat bulan, saya bilang ke suami.

“Gila itu bulan deket banget”
Suami jawab “Mana bulan? Itu lampu!”
“Itu bulan!!!”
“Masa sih?”

Pas kita perhatiin iya bener bulan! Gede dan terasa deket, kaya lampu taman hihihi. Super norak!!!

Seolah – olah kita bisa samperin itu bulan, saking terasa deketnya.

Di bawah ini foto saya bersama bulan dengan settingan kamera mirrorless otomatis (alias ga kita keren2in karena males belajar :D) Bulan yang menyerupai lampu taman.

DSC_3584DSC_3585DSC_3595

Yes, segelap itu, sampe saya ketakutan (anaknya emang cemen) ga berani jauh dari suami. Terus saya bayangin turis China itu pasti dapet foto yang keren banget dengan milkyway dan bulan yang superb (mereka nyebrang ke arah bulan)!

Kalo kalian berkesempatan berkunjung ke South Island-nya New Zealand, coba masukin Twizel ke dalam itinerary, semalem aja πŸ˜€ Hope you love it as I do.

Kannnn jadi kangen Twizel!

Yang dirindukan ketika liburan di Eropa

Pas perjalanan ke Eropa kemaren menurut saya di saat itulah saya kangen banget sama makanan Indonesia. Waktu ke Amrik ga terlalu rindu, soalnya makan malem masih suka cari Asian Food, entah itu Korean, Chinese atau Thai food. Tapi pas ke Eropa kemaren beneran tersiksa. Well, (penggunaan kata tersiksa sungguh lebay) karena sebenernya saya beberapa kali makan Indonesian food!

Selama di Eropa pun sebenernya terbatas juga saya makan makanan khas negeri yang lagi saya kunjungin. Paling coba Beef Turinger aja di Erfurt, Jerman atau udah pasti makan pizza dan pasta di Italy. Sisanya, makan kebab atau roti – rotian atau buah – buahan. Jiwa petualang kuliner saya pengen makan yang beda sebetulnya, namun karena takut dagingnya mengandung babi jadi kami sebisa mungkin cari yang aman.

Oh ya, berhubung saya penggila pasta dan lidah ini sangat akrab dengan pizza, maka makanan di Italy menjadi pelipur lara selama perjalanan di Eropa. Selain Italy, Belanda juga pelipur lara karena banyak restaurant Indonesia πŸ™‚

Ketika nginep di Ibis Berlin, kami bahagia bukan kepalang karena ada kios chinese food di deket hotel. Hari pertama kami pesen mie goreng bebek, hari kedua pesen nasi goreng ayam. Pastinya, tidak lupa saya bawa sambel bu rudy untuk memanjakan lidah saya yang pedas ini :p

Di Berlin pun, kami makan Indonesian food dengan porsi super besaaaarrr, makan di restaurant itu bareng temennya suami saya. Makanannya cukup otentik, enak. Suami bahagia karena dia pesen teh botol.

Selain makanan, saya rindu kamar dan rumah di Indonesia. Udah itu aja, sisanya ga rindu πŸ˜€

DSC_0997
Deretan Pastry Enak di salah satu kios di Paris

Have a good thursday πŸ™‚