Ketunda Corona

Sedikit cerita, hal-hal yang ketunda karena Corona.

Btw, my baby girl udah 11 bulan. What???? Bulan depan my baby girl udah setahun. ❤️

Ada impian-impian saya yang tertunda, karena pandemi di Indonesia tak kunjung berakhir.

1. Daftar les renang untuk Gladys. Pengen banget les renang sedini mungkin, supaya Gladys ga seperti mama, yang ga bisa berenang ini. Btw, saya juga udah tanya les renang ke Elsa Manora Nasution (untuk saya sendiri). Tapi pandemi ini, bikin gagal rencana berenang.

2. Sekolah bayi. Bukan sekolah yang gimana ya, namanya sekolah bayi, isinya main aja. Guling-guling, denger musik, dan di stimulasi sama pembimbing. Sekaligus ajang mama belajar cara stimulasi langsung dengan pembimbing

3. Liburan. Cita-cita banget pengen liburan😭 dah lah ga usah di bahas kalo ini. 😭

4. Outdoor activity bareng Gladys.

Begitu yah hidup, manusia berencana, Allah yang menentukan. Yang penting dan paling utama, kami semua sehat, selamat, tidak kurang suatu apapun. Amiiinn

Kangen Jaman Dulu

Kangen jaman dulu ketika belom ada pandemi.

Bisa pergi makan di luar bebas, bisa jalan kemana aja. Bisa olah raga bareng-bareng dengan senang hati.

Banyaknya kabar duka di tiga minggu terakhir, pada akhirnya bikin saya khawatir. Bukan karena sebelumnya saya tidak khawatir. Bukan, saya dulu ngerasa lebih ikhlas aja dan legowo dengan semua yang terjadi karena pandemi.

Meski awalnya butuh penyesuaian, I love go outside, I love meet people. I love try many restaurant and street food. I love just looking around at the supermarket. Tapi berusaha sabar, dan merasa ada Gladys di rumah. Sang Penghibur hati.

Namun, akhir-akhir ini berita duka kerap datang. Bikin saya sangat khawatir. How if it is me? How if, it is my husband? How if it is my mom? Or my sisters? Or aunt, uncle, cousins, or any other family members 😭

I can’t imagine that. Because what? I love my life right now. I like my stable life. I love being around Gladys and hubby.

I know, people will die eventually. Tapi, kebayang ga si rasanya ditinggal pergi tanpa bisa melihat langsung untuk yang terakhir kali? Tanpa “proper” saying good bye. It will hurt.

Sungguh, pandemi ini jahat sekali. Sangat jahat.

Saya cuma bisa berdoa banyak-banyak sama Yang Maha Kuasa. Semoga selalu diberikan kesehatan, panjang umur, dan barokah. Doa yang sama juga buat temen-temen yang baca tulisan ini. Amin.

It’s ok not to be ok

Frasa di atas sangat tepat untuk menggambarkan suasana hati saya beberapa hari ini. Di posting sebelumnya, saya sudah share bahwa saya merasa sedih, kesal, marah, bingung, dan takut.

Beberapa minggu ini, saya mendapat berita kematian karena COVID. Cukup banyak. Baik itu orang yang saya kenal langsung seperti teman sekolah, mau pun orang yang ada di lingkungan dekat saya, seperti tetangga. Ya, saya (dan tetangga lainnya) pindah ke lingkungan perumahan ini bertepatan dengan pandemi. Jadi, kami kenal sebatas wa grup saja. Tapi begitu mendengar berita beberapa tetangga “seumuran” sudah pergi saya jadi berasa mendung hatinya.

Berita-berita duka tersebut pastinya membuat saya sedih, bahkan, banyak dari cerita mereka yang wafat membuat hati saya terasa nyeri. I just can’t tell the stories here. Dan ketika saya dengar beritanya, saya berharap itu semua bahkan bukan suatu hal yang nyata. Saya berharap semoga keluarga yang ditinggalkan semua diberikan kemudahan dalam hidupnya.

I’m in a good health, dan semoga semua teman-teman di sini selalu terjaga kesehatannya.