Bersyukur

Waktu kemaren di Medan, saya berkesempatan untuk mengunjungi sekolah luar biasa tempat anak – anak penyandang tuna grahita dan tuna daksa dalam rangka (kantor) memberikan sedikit bantuan.

Ketika saya dan teman – teman lain datang, mereka menyambut ramah dengan teriak – teriak dan lari menuju kami lalu angkat tangan kasih “high five” sambil bilang hai kakak. Tentu, saya balas high five tersebut dengan senang hati.

Saya punya kesempatan ngobrol dengan Bapak Suratno, Kepala Sekolah tersebut.

Saya penasaran, apa tolak ukur perkembangan mereka di sekolah? Sedangkan, sekolah biasa di Indonesia tolak ukur ada pada nilai pelajaran, misal pelajaran matematika, biologi, geografi, bahasa inggris, and the list goes on and on. Lalu ditentukan mereka naik kelas atau tidak.

Lalu, Pak Suratno bercerita jika penilaian mereka ditentukan dari 4 pilar.

  1. Keterampilan berkomunikasi baik secara verbal maupun non verbal. Terutama tuna grahita, ini merupakan masalah yang cukup besar karena mereka sulit untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan dan mereka mau melalui komunikasi (baik itu verbal dan non verbal). Di sekolah ini diajarkan bagaimana mereka berkomunikasi, menyampaikan perasaan mereka, dsb. Pak Suratno bilang banyak anak – anak yang sudah sampai di tahap ini dengan cukup baik, namun sebaik – baiknya mereka berkomunikasi tetap ada keterbatasan. Mereka sulit untuk menjalin komunikasi yang intens dan panjang. Kita hanya bisa berkomunikasi yang ringan dan to the point saja, seperti apa kabar, sudah makan belum, mau kemana. Hal tersebut juga harus dilakukan secara perlahan dan diberikan jeda waktu.
  2. Mampu menolong diri sendiri. Dalam artian mampu minum sendiri, makan sendiri, ke toilet sendiri, pakai baju sendiri. Sekolah ini mengajarkan hal tersebut, sekolah ini sengaja tidak mendirikan asrama untuk anak – anak tersebut tinggal, karena mereka ingin keluarga juga berperan aktif dalam tumbuh kembang anak. Di satu kesempatan ada anak tuna daksa duduk di kursi roda dengan posisi tangan yang kurang sempurna dan dia bisa pegang mic sendiri untuk memberikan ucapan terima kasih. Saya terharu.
  3. Baca, tulis, hitung sederhana.
  4. Keterampilan sesuai minat dan bakat. Seperti melukis, crafting, bermusik. Waktu saya di sana, anak – anak tersebut tampil loh dengan band lengkap. hebat ya 🙂

Catatan ini untuk saya pribadi, supaya bisa selalu bersyukur untuk hal yang kecil yang kadang luput untuk disyukuri.

Iklan

3 respons untuk ‘Bersyukur

  1. zilko April 13, 2018 / 1:33 pm

    Terkadang kita terlalu fokus pada kesulitan yang sedang dialami diri sendiri, padahal banyak di luar sana yang sedang menghadapi kesulitan yang jauh lebih besar ya.

    • Puji April 13, 2018 / 2:01 pm

      Yang menurut kita hal tersebut simple bahkan ga kita pikir itu anugrah :/

  2. nyonyasepatu April 15, 2018 / 7:52 pm

    Kalau ngeliat kayak gini pasti kita jadi ngerasa jauhhhh beruntung ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s