Di Balik Foto Bayi di Media Sosial, Ada Ibu yang Krisis Identitas ??

Nemu artikel di bawah ini, setuju atau engga? ๐Ÿ˜€

KOMPAS.com โ€“ย Kebahagiaan menjadi ibu tak bisa dikalahkan oleh apa pun di dunia. Ya, bagaimana tidak? Buah hati yang dinanti akhirnya hadir melengkapi rumah tangga Anda dan suami.

Rasa bahagia yang memuncak dan deras meliputi emosi seorang ibu baru diekspresikan lewat aliran foto-foto sang bayi mungil di media sosial.

Bayi sedang menangis, foto, dan unggah. Bayi sedang makan, foto, dan unggah. Bayi tidur tersenyum, foto, dan unggah. Terus, terus, dan terus.

Kondisi itu tentunya tidak asing untuk sebagian dari Anda yang aktif berkomunikasi di media sosial.

Sarah Schoppe-Sullivan, Profesor of Human Sciences and Psychology, di The Ohio State University, AS, mengatakan bahwa ibu yang terlalu rajin mengunggah foto bayi atau anak di media sosial bisa jadi sedang mengalami krisis identitas sehingga mencari pujian dan sanjungan dari teman-temannya di media sosial.

Para ibu ini, kata Schoppe-Sullivan, mencoba menavigasi fase rumit dalam kehidupan mereka dalam menyeimbangkan identitas baru dan identitas lama sebagai seorang wanita.

Dia mengatakan bahwa para ibu tersebut bisa jadi tengah mengalami guncangan emosional menjadi ibu baru, tetapi mereka tidak menyadarinya.

โ€œBanyak ibu yang merasa tertekan dengan kebutuhan untuk memperlihatkan kebahagiaan dan kehidupan positif menjalani peran sebagai ibu,โ€ jelas Schoppe-Sullivan.

Schoppe-Sullivan dan rekan penulis menganalisis 127 partisipan wanita yang baru saja menjadi ibu.

Mereka menemukan bahwa para ibu baru yang hobi mengunggah foto anak di media sosial merasakan tekanan menjadi ibu yang sempurna. Selain itu, mereka juga kesulitan dalam menerjemahkan peran sebagai ibu sebagai aktivitas utama dalam hidup.

Alhasil, peran sebagai ibu tersebut, mereka menerjemahkannya dengan foto bayi dan anak di media sosial untuk menegaskan bahwa mereka telah menjadi seorang ibu.

Selanjutnya, hasil studi juga menemukan bahwa pujian dan sanjungan dari teman-teman di media sosial meredakan kekhawatiran dan rasa panik seorang wanita dalam menjalani peran sebagai ibu.

Hasil studi ini dipublikasikan dalam jurnal Sex Roles.

Iklan

35 thoughts on “Di Balik Foto Bayi di Media Sosial, Ada Ibu yang Krisis Identitas ??

  1. shintadaniel Juli 27, 2016 / 11:26 am

    Bisa ya bisa juga enggak, but it’s fun though, hehehe. Jadi instropeksi juga ni apa saya termasuk yang krisis identitas juga ya :D. Ijin repost yaa….

    • Puji Juli 27, 2016 / 11:29 am

      Hehe…
      Silakan repost Mba

    • Lorraine Juli 27, 2016 / 9:51 pm

      Kamu ngga Shin, masih enak dilihat, ngga overshare sih menurutku ๐Ÿ‘๐Ÿผ

      • shintadaniel Juli 28, 2016 / 7:40 am

        Terima kasih mbak Yo feedbacknya ๐Ÿ™‚

  2. Lorraine Juli 27, 2016 / 2:59 pm

    Untuk sebut ini krisis identitas aku rasa terlalu jauh cuma si peneliti ini memang ahlinya ya. Yang aku setuju dari hasil penelitian ini adalah tekanan untuk sharing foto anak diantara para ibu muda karena lingkungan. Aku pernah singgung hal ini sedikit di posku tentang Sharents itu Ji.

    • Puji Juli 27, 2016 / 9:50 pm

      Bener ya Mba Yoyen, semacam ada rasa persaingan di alam bawah sadar untuk “pamer” foto baby. Tapi emang yg paling sering banget disharing foto toddler sih ya. Imo si ๐Ÿ˜
      Yap, inget sama Sharents ๐Ÿ™‚

  3. Grant Juli 27, 2016 / 3:25 pm

    Benar ato nggaknya masih belum tau, ya. Menurutku sih kalo ibu2 suka unggah foto anak artinya eksis. Hehehe.

    • Puji Juli 27, 2016 / 9:50 pm

      Hehehe bisa juga. Ibu gaul ya ๐Ÿ˜‰

  4. denaldd Juli 27, 2016 / 3:34 pm

    Belum bisa berkomentar banyak Ji kalau baca artikel atau tulisan tentang topik seperti ini. Maklum, belum punya anak kan ya. Jadi belum tahu rasanya. Tapi yang pasti aku selalu suka membaca artikel seperti ini. Banyak membaca, banyak belajar, membuka pikiran lebar2, ambil sisi positifnya dan diterapkan sesuai dengan situasi. Thanks for sharing Ji.

    • Puji Juli 27, 2016 / 9:51 pm

      Yap, same with me Mba. Ambil sisi positifnya ๐Ÿ˜€

  5. restu dewi Juli 27, 2016 / 5:02 pm

    mmm.. mungkin benar mungkin salah.. hihihihi biasanya kalau babynya masih di bawah satu tahun tuh, pasti.sering dijumpai (ngacung, dulu pernah soalnya).. soalnya emang lucuu banget baby itu, jd ada rasa seneng aja klo banyak yg komen dan suka.. pdh emang iya,sehari-hari bejibaku sbg ibu..

  6. wasaparisian Juli 27, 2016 / 5:31 pm

    mgk perlu bilang ke penelitinya, sebetulnya itu cuma pengalihan isu …soalnya kalau yg difoto emaknya tampilan lagi puncak ga kece dan ga keru2an mba apalagi mamahmud hahaha….rempoong….ya, kalau dikit2 posting memang ga baik lah…

    • Puji Juli 27, 2016 / 9:51 pm

      Haha emaknya mungkin mau eksis lewat anaknya. Bisa juga โ˜บ๏ธ

  7. Arman Juli 27, 2016 / 8:58 pm

    Hahaha kayaknya si Sarah nya yg krisis identitas makanya bikin artikel begini biar memancing kontroversi… :p

    • Puji Juli 27, 2016 / 9:52 pm

      Yang perlu dicek lagi, ini si kompas beneran share secara lengkap ga intisari dari artikelnya. Mana tauu dia yg bikin kontroversi juga Koh ๐Ÿ˜‚

  8. Prita Pdinata Juli 27, 2016 / 9:11 pm

    Hmmm kalo menurut saya bisa jadi, cuman mungkin lebih cenderung ke ‘pamer anak’ daripada identitas si ibu ya… Karena kan emang udah budaya di sini membangga-banggakan anak gitu, jadi ya mungkin bawaan itu pamer-pamer di medsos.

    • Puji Juli 27, 2016 / 9:53 pm

      Iya, jaman ga ada sosmed. Bilang ke tetangga, anak saya gini dan gitu. Jaman ada sosmed. Tinggal foto, share deh ๐Ÿ™‚

  9. Nadia Stephanie Juli 27, 2016 / 9:13 pm

    Aku ga stujuu.. soalnya ga ngerasa krisis identitas juga hahaha.. upload foto anak di sosmed murni karena ngerasa anak sendiri cantik aja jd pengen dipamer2 namanya juga ortu bias wkwkwkwkwkkwkw.. bukan krisis identitas, cuma seneng overdosis ajaa..

    • Puji Juli 27, 2016 / 9:54 pm

      Seneng overdosis. Good phrase haha

  10. ohdearria Juli 27, 2016 / 10:26 pm

    Kl dibilang krisis identitas sih spertinya terlalu ‘nyinyir’ deh si professor ini ๐Ÿ˜œ Mungkin juga si ibu lagi jenuh jadi pengalihannya dengan foto2 baby-nya dan upload ke sosmed. Tapi emang kalo terlalu sering dan too much, kadang bikin yg liat jadi bosen juga sih. Every thing yg ‘over’ itu emang ga bagus kan. Baik itu baby/toddler/anak2/adult kalo over expose over sharing pastinya ada sisi negativenya.

    • Puji Juli 28, 2016 / 12:08 pm

      Mungkin sang professor lelah

  11. zilko Juli 28, 2016 / 12:48 am

    Kalau membaca artikel hasil penelitian gini, artikelnya mesti dibaca teliti bagaimana eksperimennya dilakukan, apa yang diukur, dsb, hehe. Kadang artikel majalah/koran online mah cuma mencomot sebagian kesimpulannya saja tanpa melihat konteksnya ๐Ÿ˜› .

    • Puji Juli 28, 2016 / 12:09 pm

      Iya, bisa jadi itu memang hanya kesimpulan pribadi si penulis kan ya ๐Ÿ˜‚

      • zilko Juli 28, 2016 / 4:14 pm

        Hahaha, kalau kesimpulan pribadi nggak mungkin dituliskan di jurnal ilmiah sih kalau nggak bisa dipertahankan ๐Ÿ˜€ . Kan jurnal ilmiah itu di-review.

        Maksudku adalah, kesimpulan di jurnal ilmiah itu biasanya berdasarkan suatu kondisi/asumsi tertentu. Nah, untuk menginterpretasikan kesimpulan ini dengan benar, jurnalnya mesti dibaca secara keseluruhan ๐Ÿ˜€ . Kalau cuma baca kesimpulannya aja, bisa jadi kondisi/asumsi ini kita asumsiin sendiri yang sebenarnya berbeda dari apa yang penulis maksud ๐Ÿ˜€ .

      • zilko Juli 28, 2016 / 4:15 pm

        Eh tapi kalau maksudnya kesimpulan pribadi si penulis korannya, bisa jadi banget!! Hahahaha ๐Ÿ˜† . Tergantung si penulis korannya bagaimana menuliskannya ๐Ÿ˜€ .

  12. rahmabalcฤฑ Juli 28, 2016 / 2:32 am

    awal awal pny anakpanda emang kyk punya rasa bahagia kalo posting foto bayi, apalagi anaknya bulet kayak bolo bolo.tp tetap ada tukang sensor baba nya, ga semua foto anak diposting kudu ada persetujuan dulu,apalagi kl nyangkut si anak cm pake kolor…ditambah org turki percaya bgt sm nazar-dlm islam disebut jg ain’ pandangan mata buruk yang ngundang bala, jd bayi2 kecil gini rada rentan di pamerin di sosmed, krn Ain’ tersebut, ada penjelasan hadist nya. bisa jd krisis identitas hahah krn disaat temen2 lama di jakarta pada pamer foto liburan dsb, kyk rasa pgn nunjukin, nih gue jg bahagia udah jd ฤฐRT dan ngurus bayi lucu:C*padahal mah aslinya nutupin rasa iri pengen liburan*biar tetep ada yg ‘perhatian’ hahha, skrg kok dia udah 3 thn..krn udah bs protes, susah moto juga:D

    • Puji Juli 28, 2016 / 12:10 pm

      Mesti ada yang bisa jadi filter ya supaya ga berlebihan

  13. adhyasahib Juli 28, 2016 / 12:07 pm

    duh saya bakalan termasuk golongan ibu2 itu gak ya kalo nanti punya anak ๐Ÿ˜€

    • Puji Juli 28, 2016 / 12:11 pm

      Hehe. Ayooo kira-kira jadi golongan itu gaa ๐Ÿ˜‹

  14. ameliasusilo Juli 29, 2016 / 2:04 am

    Haii Puji.. Salam kenal ๐Ÿ™‚
    Aku termasuk yang suka posting foto bayiku tapiii kalo dibilang krisis identitas kok kayanya engga ya hihihi.. Cuma pingin sharing ke temen2 dan keluarga yg ada di Indonesia. Jadi khawatiiir klo ternyata aku termasuk ibu baru yg krisis identitas ๐Ÿ˜ฆ

    • ameliasusilo Juli 29, 2016 / 2:05 am

      Oh iya aku ijin share postingannya ini di path ya?

      • Puji Juli 29, 2016 / 4:00 am

        Hiii Mba Amel, salam kenal juga. Iya silakan klo mau di share ๐Ÿ™‚

      • ameliasusilo Juli 29, 2016 / 4:48 am

        oke.. terima kasih ๐Ÿ™‚

  15. adelinatampubolon Agustus 3, 2016 / 3:15 pm

    Menurut aku sich nga juga yach? Entahlah benar apa salah yach pendapatku. Tapi kebanyakan ibu2 yg aku lihat disekitarku sich rata-rata mereka lebih kepada bagaimana mengabadikan tumbuh kembangnya anak aja sich. Biar ada cerita kalau sudah besar si anak nantinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s